Label


Breaking News

Jelang HUT ke-69 Kosgoro 1957, Warga Nglumbung Gunungkidul Terima Bantuan Air Bersih

Pimpinan Daerah Kolektif (PDK) Kosgoro 1957 DIY foto bersama saat kegiatan bakti sosial berupa dropping air bersih bagi warga terdampak kekeringan di Kabupaten Gunungkidul dan Kabupaten Kulon Progo.

GUNUNGKIDUL – (F86) Jelang Hari Ulang Tahun (HUT) ke-69 Kosgoro 1957, Pimpinan Daerah Kolektif (PDK) Kosgoro 1957 DIY menggelar kegiatan bakti sosial berupa dropping air bersih bagi warga terdampak kekeringan di Kabupaten Gunungkidul dan Kabupaten Kulon Progo.

Telah terkumpul dana untuk membeli 30 tangki air bersih. Sebanyak 15 tangki diperuntukkan bagi warga terdampak di Kabupaten Gunungkidul dan 15 tangki lainnya untuk Kabupaten Kulon Progo.

Minggu pagi (13/9/2026), rombongan Tim Bhaksos Dropping Air Kosgoro 1957 DIY menuju dua padukuhan di kawasan Gunungkidul, yakni Padukuhan Gebang, Girisuka, Panggang dan Padukuhan Nglumbung, Giricahyo, Purwosari, Gunungkidul.

Kegiatan tersebut dinahkodai Erwin Nizar, S.Psi., M.Si., selaku Pimpinan Daerah Kolektif Kosgoro 1957. Perjalanan menuju lokasi melewati medan berbukit dan naik turun dengan waktu tempuh sekitar 1,5 jam.

Di Padukuhan Gebang, Girisuka, Panggang, rombongan Tim Bhaksos Kosgoro 1957 DIY singgah di rumah Ketua RW untuk mendapatkan informasi mengenai kondisi warga yang terdampak kekeringan. Dana untuk membeli 15 tangki air bersih diserahkan Ery Agustin, salah satu anggota DPRD Kabupaten Gunung Kidul, dan diterima Ibu RW 09.

Musim kemarau kembali membawa kesulitan bagi warga Padukuhan Gebang. Sebagian warga bahkan terpaksa menjual ternak untuk membeli air bersih setiap musim kemarau tiba.

Wilayah Gebang hingga sekarang masih kesulitan memperoleh sumber air bersih. Berbagai upaya pengeboran sumur pernah dilakukan hingga kedalaman 72 meter, namun belum berhasil menemukan air yang layak dikonsumsi.

Warga kemudian harus membeli air bersih menggunakan mobil tangki setiap bulan. Air dari wilayah Giritirta dijual Rp150.000 per tangki berkapasitas 5.000 liter, sedangkan air dari Imogiri, Bantul, dijual Rp180.000 per tangki karena kualitasnya lebih baik untuk dikonsumsi dan tidak mengandung kapur.

Beban ekonomi tersebut semakin berat bagi warga yang kurang mampu. Tidak sedikit warga harus menjual kambing atau ternak yang menjadi hasil tabungan dari panen padi pada musim hujan demi memenuhi kebutuhan air bersih saat musim kemarau.

Kondisi serupa juga dirasakan warga Padukuhan Nglumbung, Kalurahan Giricahyo, Kapanewon Purwosari, Kabupaten Gunungkidul. Wilayah tersebut sudah merasakan dampak kekeringan sejak Mei 2026 dan telah menghabiskan belasan tangki air bersih untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Dukuh Padukuhan Nglumbung, Walidi Mustofa, mengatakan wilayahnya sangat rentan terhadap dampak musim kemarau. Kondisi geografis berupa kawasan berbatu kapur membuat wilayah tersebut tidak memiliki sumber mata air.

“Musim kemarau ini sangat rentan. Kami itu termasuk dampak musim kemarau. Di tempat kami itu kekeringan. Karena batu berkapur tidak ada mata air,” kata Walidi.

Menurut Walidi, warga mengandalkan bak penampungan air hujan ketika musim penghujan. Namun saat memasuki musim kemarau, warga harus membeli air menggunakan tangki.

“Kalau musim penghujan kami ada bak-bak, setiap rumah ada bak tampungan. Tetapi kalau untuk musim kemarau, kita membeli dengan tangki. Jadi setiap hari ada yang membeli, itu pun kadang kala kita beli karena cukup lumayan mahal di sini,” jelasnya.

Padukuhan Nglumbung memiliki 178 kepala keluarga. Sebagian besar warga bekerja sebagai petani, sementara sebagian lainnya menjadi buruh di Parangtritis.

Walidi mengatakan berbagai upaya telah dilakukan untuk mencari sumber mata air di wilayah tersebut. Penelitian juga pernah dilakukan mahasiswa, namun hingga kini belum ditemukan sumber mata air.

“Dari pihak-pihak terkait itu sudah mencari sebuah solusi, tapi ternyata selama ini belum ditemukan mata air di daerah kami. Jadi selama ini kami tetap menggantung diri sama air hujan, kalau kemarau tetap dari tangki,” ujarnya.

Bak Penampungan Air Hujan (PAH) milik warga masih berfungsi. Namun persediaan air di dalamnya hanya mampu bertahan sekitar satu hingga dua bulan setelah musim penghujan, sehingga warga kembali harus membeli air tangki.

“Masih ada, masih ada. Untuk tampungan masih ada. Berfungsi, cuma kalau musim kemarau kan airnya itu dari penghujan. Jadi airnya sudah paling satu bulan, dua bulan sudah habis. Kita harus beli lagi dengan air tangki,” terang Walidi.

Di Padukuhan Nglumbung, harga air setiap tangki berkisar Rp130.000 hingga Rp180.000. Warga juga harus mengantri dan bergantian mendapatkan air.

Kondisi kekeringan tersebut membuat sebagian warga menjual ternak untuk memenuhi kebutuhan air bersih dan pakan ternak. Lahan pertanian juga tidak dapat ditanami saat musim kemarau sehingga penghasilan warga ikut terdampak.

Bantuan air bersih dari komunitas maupun organisasi lainnya diprioritaskan bagi warga yang tidak mampu. Setiap RT diminta mendata warga kurang mampu untuk mendapatkan bantuan air bersih.

Dalam kegiatan tersebut, truk tangki berkapasitas 5.000 liter disiapkan di depan Penampungan Air Hujan (PAH). Penuangan air bersih diawali Erwin Nizar dan disaksikan warga setempat, kemudian dilanjutkan anggota Tim Bhaksos lainnya.

Kedatangan bantuan air bersih Kosgoro 1957 DIY disambut penuh rasa syukur oleh warga. Krisis air bersih selama musim kemarau memaksa masyarakat menempuh jarak jauh untuk membeli air atau mengeluarkan biaya tambahan dengan menjual ternak.

Walidi berharap perhatian dan bantuan terhadap warga terdampak kekeringan dapat terus dilakukan oleh pemerintah maupun instansi terkait.

“Harapan kami semoga kedepannya dari pemerintah, dari instansi terkait bisa membantu daerah kami karena dampak dari kekeringan kemarau,” ungkapnya.

Ia juga menyampaikan terima kasih atas kepedulian yang diberikan kepada warga Padukuhan Nglumbung, termasuk bantuan air bersih yang diterima pada kegiatan tersebut.

“Semoga kedepannya Kosgoro 1957 dan Partai Golkar itu lebih baik dan maju. Semoga kami dan keluarga yang di warga kami, warga Padukuhan Nglumbung juga diberi keselamatan, kesejahteraan untuk warga kami,” pungkas Walidi.

Kegiatan dropping air bersih tersebut menjadi bagian dari kepedulian terhadap warga yang menghadapi kesulitan memperoleh kebutuhan dasar air bersih di tengah musim kemarau.(Awiek R).





Type and hit Enter to search

Close