YOGYAKARTA (F86) - Kawasan Malioboro kini tidak hanya menjadi ruang bagi wisatawan untuk berbelanja oleh-oleh, menikmati suasana kota, maupun berswafoto dengan pakaian adat Jawa. Setiap Sabtu pagi, kawasan ikonik tersebut juga mulai menjadi ruang terbuka untuk belajar dan mengenal kebudayaan Jawa.
Melalui program “Setu Sinau ing Malioboro”, masyarakat dan wisatawan dapat mengikuti berbagai kegiatan budaya secara gratis. Salah satu kegiatan yang menarik perhatian adalah Sinau Wayang, yang mengajak generasi muda mengenal lebih dekat seni pewayangan beserta filosofi yang terkandung di dalamnya.
Program yang digelar Pemerintah Kota Yogyakarta melalui Dinas Kebudayaan tersebut berlangsung di kawasan trotoar sisi timur Jalan Malioboro, mulai dari depan Kantor DPRD Provinsi DIY ke arah selatan hingga kawasan depan Gedung Agung Yogyakarta.
Konsep yang diusung berupa workshop atau bengkel seni di ruang publik. Kegiatan dibuat santai, terbuka dan interaktif sehingga masyarakat yang sedang berjalan-jalan, berolahraga maupun pesepeda yang melintas dapat ikut belajar.
Selain Sinau Wayang, terdapat sejumlah aktivitas kebudayaan lain seperti Sinau Nggamel, Sinau Ngadi Busana Tradisional Jogja, Sinau Joged, Sinau Nggambar, Sinau Mbatik, Sinau Bahasa Jawa, hingga permainan tradisional anak seperti gasing, dakon dan lomba bakiak.
Dalam kegiatan Sinau Wayang tersebut, masyarakat mendapatkan kesempatan untuk berdialog langsung dengan pelaku seni pewayangan. Salah satunya Ki Wondo, yang dikenal sebagai sosok yang dituakan di lingkungan PEPADI DIY (Persatuan Pedalangan Indonesia).
Menurut Ki Wondo, keterlibatan komunitas pedalangan dalam program tersebut merupakan bagian dari tanggung jawab untuk menjaga dan melestarikan seni tradisi agar tidak kehilangan generasi penerus.
“Kami memang punya tugas untuk menjaga, melestarikan, dan berjuang agar generasi itu tidak putus. Itu tugas kami. Dengan adanya ruang seperti ini, kami bisa menyampaikan pengetahuan tentang wayang kepada generasi berikutnya,” ujar Ki Wondo. Sabtu (29/8/2026).
Ia mengatakan, kegiatan Sinau Wayang secara khusus diarahkan untuk mengenalkan seni pewayangan kepada generasi muda, termasuk generasi Z dan generasi Alfa.
“Target kita sebenarnya anak-anak generasi Alfa dan generasi Z, supaya estafet generasi itu tidak putus. Itu yang kami harapkan,” jelasnya.
Ki Wondo mengakui perkembangan zaman dan globalisasi menjadi tantangan tersendiri bagi keberlangsungan seni tradisional, termasuk wayang kulit.
Namun, ia bersyukur wayang hingga saat ini masih mampu berkembang dan tetap memiliki tempat di tengah masyarakat.
“Globalisasi memang menjadi tantangan tersendiri bagi seni tradisi. Tetapi kami bersyukur wayang kulit tetap bisa berkembang dan tetap eksis, tidak lapuk ditelan zaman,” katanya.
Menurutnya, keberlangsungan wayang juga bergantung pada kemampuan para pelaku seni dalam melakukan inovasi dan menyesuaikan pertunjukan dengan perkembangan zaman serta selera masyarakat.
Meski demikian, inovasi tidak boleh menghilangkan nilai filosofis dan nilai luhur yang menjadi dasar dari seni pewayangan.
“Kreasi itu bebas, kami tidak akan membatasi. Tetapi harus tahu batas-batasnya. Jangan sampai kreasi itu justru mendangkalkan nilai adiluhung wayang. Kalau wayang sudah kehilangan nilai adiluhungnya, ya habis,” tegasnya.
Dalam sesi Sinau Wayang, Ki Wondo juga menjelaskan bahwa seni pewayangan memiliki banyak jenis dan karakter. Tidak seluruh jenis wayang tersebut dapat dengan mudah diperkenalkan dalam satu kesempatan karena sebagian merupakan jenis wayang yang langka.
Ia menyebut sejumlah jenis wayang yang dikenal dalam tradisi pedalangan, termasuk Wayang Purwa dan Wayang Madya.
Selain itu, terdapat pula jenis wayang yang berkembang dengan membawa cerita dan nilai keagamaan tertentu, seperti Wayang Sadat yang mengangkat unsur Islam dan Wayang Wahyu yang berkembang dengan kisah bernuansa Kristiani.
Keberagaman tersebut menunjukkan bahwa dunia pewayangan Indonesia memiliki khazanah yang sangat luas, tidak hanya dari sisi bentuk dan cerita, tetapi juga nilai budaya, filosofi dan kehidupan masyarakat.
Wayang kulit merupakan seni pertunjukan tradisional yang menggunakan boneka kulit sebagai media penyampaian cerita. Wayang dibuat melalui proses pemahatan dan pengukiran, kemudian diberi warna atau dikenal dengan istilah sungging.
Dalam sebuah pertunjukan wayang, dalang mempunyai posisi sentral. Dalang berperan menggerakkan tokoh-tokoh wayang, membawakan narasi dan dialog, mengatur jalannya cerita sekaligus menyampaikan pesan moral kepada penonton.
Karena itu, regenerasi dalang dan pengenalan filosofi wayang kepada generasi muda menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan kesenian tersebut.
Kehadiran Sinau Wayang di Malioboro menjadi salah satu cara untuk mendekatkan seni tradisional kepada masyarakat. Wayang tidak hanya ditempatkan sebagai tontonan, tetapi juga dikenalkan sebagai sumber pengetahuan dan nilai kehidupan.
Kegiatan Setu Sinau ing Malioboro memberikan warna baru bagi kawasan Malioboro. Ruang publik yang selama ini identik dengan aktivitas wisata dan perdagangan kini juga dimanfaatkan sebagai tempat belajar kebudayaan.
Kehadiran mahasiswa asing yang sedang menempuh pendidikan di Yogyakarta juga membuat interaksi budaya semakin menarik. Mereka dapat belajar langsung mengenai kesenian tradisional Jawa sekaligus berinteraksi dengan pelaku seni dan masyarakat lokal.
Bagi Ki Wondo, ruang semacam ini penting untuk memastikan seni tradisi tetap memiliki hubungan dengan generasi berikutnya.
Upaya pelestarian wayang, menurutnya, bukan berarti menutup diri terhadap perubahan. Sebaliknya, seni tradisi harus mampu beradaptasi, namun tetap menjaga nilai-nilai luhur yang menjadi identitasnya.
Sinau Wayang di Malioboro akhirnya bukan sekadar kegiatan belajar seni. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga mata rantai pewarisan budaya Jawa agar tidak terputus di tengah derasnya perkembangan zaman.(Awiek R).



Social Footer
Kontributor
Label
Social Media