Label


Breaking News

LKP Barokah Klaten Raih Akreditasi B dan Juara 2 Lomba Kue Tingkat Provinsi Jawa Tengah

 

Dra. Rubiyem, (baju merah) sedang memberikan pelatihan kuliner, Jumat (15/8/2026).

Klaten (F86) - Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) Barokah yang berada di Krajan, Desa Banyuaeng, Kecamatan Karangnongko, Kabupaten Klaten, terus menunjukkan kiprahnya dalam memberdayakan masyarakat melalui pendidikan dan pelatihan keterampilan.

Lembaga yang didirikan pada 2014 oleh Dra. Rubiyem, pensiunan SMK Negeri 3 Klaten, tersebut telah memperoleh penilaian kinerja/akreditasi B dari pemerintah. Keberadaan LKP Barokah menjadi salah satu upaya memberikan bekal keterampilan kepada masyarakat agar memiliki kemampuan yang dapat dikembangkan menjadi peluang kerja maupun usaha mandiri.

Dra. Rubiyem mengatakan LKP Barokah membuka pelatihan di bidang Tata Boga dan Tata Busana. Khusus bidang kuliner, materi yang diberikan cukup beragam, mulai dari aneka kue Nusantara dan mancanegara, aneka lauk, continental food, dessert, main course, hingga pastry.

"Kami tidak membatasi. Peserta mau belajar lima menu atau tiga menu tetap kami layani. Bahkan ada sistem les privat, mereka bisa menentukan sendiri menu yang ingin dipelajari. Insya Allah semua bisa kami latih," ujar Rubiyem, Jumat (15/8/2026).

Salah satu keunggulan LKP Barokah adalah memberikan keterampilan kepada peserta untuk mengolah bahan sederhana menjadi produk makanan yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.

Menurut Rubiyem, bahan pangan yang memiliki harga relatif murah dapat dikembangkan menjadi produk kuliner yang memiliki nilai jual apabila diolah dengan kreativitas dan keterampilan.

"Contohnya hari ini kami membuat kue pai ubi ungu. Ubi ungu satu kilogram hanya Rp4.000 sampai Rp5.000, tetapi setelah diolah bisa menjadi ratusan ribu rupiah. Bahan yang sebelumnya dianggap tidak bernilai kita angkat menjadi makanan dengan nilai ekonomis 10 sampai 50 kali lipat," jelasnya.

Konsep tersebut diharapkan dapat membuka wawasan peserta bahwa peluang usaha tidak selalu membutuhkan bahan baku mahal. Dengan kreativitas dan kemampuan mengolah produk, bahan yang tersedia di lingkungan sekitar pun dapat dikembangkan menjadi sumber pendapatan.

Saat ini LKP Barokah membina sekitar 120 peserta yang terbagi dalam empat gelombang. Setiap gelombang terdiri dari 30 peserta yang kemudian dibagi menjadi enam kelompok, masing-masing beranggotakan lima orang.

Pembagian kelompok tersebut bertujuan agar peserta dapat memperoleh kesempatan praktik secara langsung, bertanya kepada instruktur, dan mengikuti proses pembelajaran secara lebih fokus.

"Tujuannya agar peserta bisa praktik langsung, bertanya langsung, dan fokus. Walaupun hanya satu kali praktik, kami berusaha agar hasilnya sudah bagus dan layak dipasarkan kepada masyarakat. Ini bisa menjadi tambahan pendapatan," katanya.

Selain menyelenggarakan pelatihan, LKP Barokah juga menjadi Tempat Uji Kompetensi (TUK) dengan melibatkan asesor dari Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) Jakarta.

Kurikulum pelatihan mengacu pada Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) dan Standar Kompetensi Lulusan. Untuk program level 2 yang setara dengan jenjang SMK, masa pembelajaran ditempuh sekitar satu bulan.

Keberadaan TUK tersebut memberikan kesempatan kepada peserta untuk memperoleh pengakuan kompetensi sesuai bidang keterampilan yang dipelajari.

Prestasi LKP Barokah juga ditunjukkan melalui keberhasilannya meraih Juara 2 Lomba Kue Tingkat Provinsi Jawa Tengah pada 23–25 Juli 2026.

Dalam ajang tersebut, LKP Barokah mewakili IWAPI Kabupaten Klaten dengan mengangkat tema “Aneka Kue Bekatul – Kue Koin dari Bekatul”.

Rubiyem mengatakan produk yang diikutsertakan dalam lomba tersebut juga mendapatkan respons positif saat dipamerkan dalam kegiatan pameran dan bazar.

"Pada lomba tingkat Provinsi Jawa Tengah, kami mewakili IWAPI Kabupaten Klaten dan berhasil meraih Juara 2 dengan mengangkat tema Aneka Kue Bekatul atau Kue Koin dari Bekatul. Produk kami juga laris saat pameran dan bazar," tegasnya.

Prestasi tersebut menunjukkan bahwa bahan pangan lokal seperti bekatul dapat dikembangkan menjadi produk kuliner kreatif yang memiliki nilai jual dan daya saing.

Komitmen LKP Barokah dalam pemberdayaan masyarakat juga diwujudkan melalui keterbukaan terhadap peserta penyandang disabilitas.

Di antara peserta difabel yang mendapatkan kesempatan belajar di LKP Barokah adalah Joko, warga Kecamatan Wonosari, Klaten, dan Awalina Yulfa dari Manisrenggo, Klaten.

Bagi Joko, lingkungan belajar di LKP Barokah memberikan pengalaman yang membuat dirinya semakin percaya diri dalam menghadapi keterbatasan.

"Dulu saya merasa punya kekurangan karena difabel. Tetapi di LKP Barokah, Bu Rubiyem dan teman-teman saling merangkul," ungkap Joko.

Menurutnya, pembelajaran yang diterima tidak hanya mengajarkan keterampilan memasak. Peserta juga mendapatkan pengetahuan mengenai pemasaran dan bagaimana menentukan usaha setelah menyelesaikan pelatihan.

"Di sini belajar bukan cuma masak, tetapi juga belajar jualan, mau jualan apa saja, dan bagaimana cara mengolah makanan yang benar," katanya.

Joko mengaku keterampilan yang diperoleh telah mendorong dirinya untuk mengembangkan usaha makanan dari rumah.

"Sekarang sudah punya usaha makanan di rumah. Dan saya yakin, saya bisa jadi pengusaha," tegasnya.

Ke depan, Dra. Rubiyem berharap LKP Barokah dapat semakin banyak bersinergi dengan pemerintah maupun berbagai kantor dan lembaga di Kabupaten Klaten dalam penyelenggaraan program pelatihan masyarakat.

"Saya berharap LKP ini bisa membantu pemerintah dalam pelatihan. Bagi kantor-kantor yang menyelenggarakan pelatihan, silakan bisa bekerja sama dengan LKP Barokah," pungkasnya.

Dengan akreditasi B, prestasi di tingkat Provinsi Jawa Tengah, serta komitmen memberikan pelatihan kepada masyarakat termasuk penyandang disabilitas, LKP Barokah berupaya menjadikan keterampilan sebagai modal untuk meningkatkan kemandirian ekonomi.

Bagi LKP Barokah, pelatihan bukan hanya tentang kemampuan membuat makanan, tetapi juga membangun keberanian untuk melihat peluang, menghasilkan produk, memasarkannya, dan mengembangkan usaha secara mandiri. (Siswanto).





Type and hit Enter to search

Close