KLATEN (F86) -Di tengah dinamika zaman, Kabupaten Klaten menyimpan jejak panjang tentang kerukunan dan toleransi beragama. Jejak itu sudah ada sejak abad VIII–X Masehi, pada masa kejayaan Kerajaan Mataram Kuno.
Wilayah Klaten- Prambanan yang dikenal sebagai “Siwa Plateau” menjadi saksi bisu bagaimana dua keyakinan besar, Hindu dan Buddha, hidup berdampingan secara harmonis lebih dari 12 abad silam.
Itulah salah satu hal yang diungkap Ir. Wisnu Hendrata, MMR dalam bukunya Jejak Kerukunan dan Toleransi di Klaten yang dikupas sejumlah pakar sejarah dan arkeolog di Pendopo Pemerintah Kabupaten Klaten, Rabu (5/8/2026).
Wisnu Hendrata mengatakan bahwa pernikahan dapat melahirkan harmoni dua dinasti. Kerukunan di Mataram Kuno yang dipelopori dari istana pada tahun 840 M terjadi pernikahan *Rakai Pikatan* dari Dinasti Sanjaya yang beragama Hindu dengan *Pramodhawardhani* dari Dinasti Sailendra yang beragama Buddha.
"Pernikahan ini melahirkan keselarasan politik dan spiritual. Agama Hindu bersanding dengan agama Buddha. Bukti nyatanya adalah *Candi Plaosan di Klaten* yang dibangun oleh Rakai Pikatan sebagai hadiah untuk istrinya. Sebaliknya, Pramodhawardhani juga mendukung penuh pembangunan candi-candi bercorak Hindu," katanya.
Adanya candi Sojiwan merupakan Simbol Penghormatan Lintas Iman yang ada di Desa Kebon Dalem Kidul, Kecamatan Prambanan, Klaten, berdiri *Candi Sojiwan* yang dibangun sekitar abad ke-9 M.
"Candi bercorak Buddha ini didirikan oleh Raja *Balitung* dari Dinasti Mataram Kuno sebagai bentuk penghormatan kepada neneknya, *Nini Haji Rakryan Sanjiwana*, yang beragama Buddha. Prasasti Rukam tahun 907 M mencatat persembahan bangunan suci ini," ujarnya.
Menariknya kata Wisnu Hendrata , meski bercorak Buddha, pada bagian arupadhatu terdapat stupa-stupa kecil, namun beberapa bagiannya menunjukkan kecenderungan corak Hindu. Ini menjadi simbol perpaduan dan saling menghargai.
“Candi Sojiwan berada di kawasan Siwa Plateau yang banyak terdapat candi baik candi berlatar belakang agama Hindu maupun Buddha. Hal ini menunjukkan bahwa sejak dulu nenek moyang kita telah hidup harmonis dan sangat toleran,” katanya.
Dikatakan bahwa bukti kehidupan sosial yang damai selain candi, jejak toleransi juga terlihat dari perkampungan di *Dukuh Kropakan, Desa Mranggen, Jatinom, Klaten.
"Ditemukan artefak berupa guci, gerabah, manik-manik, dan keramik Dinasti Tang abad 9-10 M. Diduga ini adalah klaster hunian dan pertanian masa Mataram Kuno yang hidup berdampingan," kata Wisnu Hendrata.
Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo dalam sambutannya yang dibacakan staf Ahli bupati Slamet , SH, M, Si dikatakan bahwa warisan Mataram Kuno di Klaten bukan hanya soal batu dan candi.
“Ini adalah pelajaran bahwa perbedaan keyakinan bisa menjadi kekuatan. Semangat Rakai Pikatan dan Pramodhawardhani adalah semangat kita hari ini yakni saling menghormati, saling membangun,” ujarnya.
Dengan usia lebih dari 1.200 tahun kata Hamenang, jejak kerukunan di Klaten menjadi modal penting dalam merawat kebinekaan Indonesia.
"Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, memiliki lebih dari 300 situs cagar budaya. Kawasan Prambanan-Klaten menjadi pusat peradaban Mataram Kuno abad VIII-X dan ditetapkan sebagai salah satu kawasan warisan budaya dunia oleh UNESCO," ujarnya. ( Siswanto).


Social Footer
Kontributor
Label
Social Media