YOGYAKARTA (F86)– Keraton Yogyakarta kembali menggelar rangkaian tradisi Sekaten dan Gerebeg Mulud dalam rangka memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW. Tahun ini, pelaksanaan Gerebeg Mulud dijadwalkan pada Selasa, 25 Agustus 2026, dengan konsep yang lebih sederhana.
Meski dilakukan dengan penyederhanaan prosesi, sejumlah tradisi penting tetap dipertahankan sebagai bagian dari warisan budaya Keraton Yogyakarta yang diwariskan secara turun-temurun.
Salah satu prosesi yang tetap dilaksanakan adalah Miyos Gongso, yakni keluarnya perangkat gamelan pusaka Keraton Yogyakarta menuju Masjid Gedhe Kauman untuk dimainkan dalam rangkaian perayaan Sekaten.
Tradisi tersebut menjadi salah satu penanda dimulainya rangkaian Sekaten dalam memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW.
Sejumlah abdi dalem Keraton Yogyakarta mengangkat salah satu gamelan pusaka dalam prosesi Miyos Gongso di Serambi Masjid Gedhe Kauman, Rabu malam (19/8/2026).
Dalam tradisi tersebut, dua perangkat gamelan pusaka Keraton Yogyakarta ditempatkan di masing-masing pagongan. Kanjeng Kiai Guntur Madu berada di Pagongan Kidul, sedangkan Kanjeng Kiai Nagawilaga berada di Pagongan Lor.
Kedua perangkat gamelan tersebut memiliki kedudukan penting dalam tradisi Sekaten Keraton Yogyakarta dan disebut telah ada sejak masa pemerintahan Sultan Hamengku Buwono I.
Penyederhanaan prosesi Gerebeg tahun ini merupakan bagian dari kebijakan Keraton Yogyakarta menyikapi kondisi ekonomi dan kebijakan penghematan anggaran pemerintah.
Para abdi dalem Keraton Yogyakarta telah menerima dawuh atau arahan untuk melaksanakan prosesi Gerebeg dengan konsep yang lebih sederhana.
KRT Kusumanegara, salah satu abdi dalem senior berpangkat Bupati Nayoko Kanjeng Kusumo, menyampaikan bahwa dawuh Sultan akan dilaksanakan sebaik-baiknya.
Menurutnya, meskipun terdapat penyederhanaan dalam prosesi, esensi tradisi dan nilai budaya Gerebeg tetap dijaga.
Pemberian sedekah dari raja kepada kawula juga tetap diwujudkan melalui pembagian ubarampe Pareden kepada para abdi dalem Keraton Yogyakarta.
Sri Sultan Hamengku Buwono X sebelumnya menyampaikan keputusan untuk menyederhanakan gelaran Gerebeg Keraton Yogyakarta tahun ini.
Sultan menjelaskan, kebijakan tersebut tidak terlepas dari kondisi pemerintah yang sedang melakukan penghematan anggaran.
“Karena saat ini pemerintah sedang menghemat APBN, daerah pun juga harus melakukan hal yang serupa,” ujar Sri Sultan HB X saat ditemui awak media di Kompleks Kepatihan Yogyakarta.
Sultan juga menyampaikan bahwa dalam rangkaian Sekaten masih terdapat kemungkinan keterlibatan prajurit Bregada sebagai bagian dari prosesi.
Namun, untuk sejumlah prosesi lainnya, termasuk gunungan dan arak-arakan, pelaksanaannya masih melihat perkembangan kondisi ekonomi ke depan.
“Kalau memang keadaan ekonomi sudah stabil, akan kita munculkan lagi prosesi gunungan dan arak-arakan,” ujar Sultan.
Penyederhanaan Gerebeg Mulud 2026 menunjukkan bahwa pelestarian tradisi tidak selalu harus dilakukan dengan kemeriahan yang besar.
Miyos Gongso, gamelan pusaka, Sekaten hingga pembagian ubarampe Pareden tetap menjadi bagian penting yang menjaga kesinambungan tradisi Keraton Yogyakarta.
Bagi masyarakat Yogyakarta, Gerebeg Mulud bukan sekadar rangkaian kegiatan budaya. Tradisi tersebut juga menjadi ruang bertemunya nilai sejarah, spiritualitas, budaya dan hubungan antara keraton dengan masyarakat.
Dengan tetap mempertahankan inti tradisi di tengah penyederhanaan prosesi, Keraton Yogyakarta berupaya menjaga warisan budaya sekaligus menyesuaikan penyelenggaraan dengan kondisi yang ada.(Awiek R).

Social Footer
Kontributor
Label
Social Media