![]() |
| Festival budaya yang digelar di Balai Desa Wanglu, Selasa (25/8/2026). |
KLATEN (F86) – Semangat melestarikan budaya Jawa sekaligus memeriahkan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81 diwujudkan warga Desa Wanglu, Kecamatan Trucuk, Kabupaten Klaten, melalui Festival Budaya.
Festival budaya yang digelar di Balai Desa Wanglu, Selasa (25/8/2026), tersebut diikuti oleh 20 RT. Kegiatan ini menjadi festival budaya berskala besar yang pertama kali digelar oleh masyarakat Desa Wanglu.
Ketua panitia, Joko Santoso, mengatakan kegiatan tersebut sengaja digelar sebagai bagian dari rangkaian perayaan HUT Kemerdekaan RI ke-81 sekaligus menjadi ruang bagi masyarakat untuk mengenalkan kembali budaya Jawa kepada generasi muda.
“Hari ini kami mengadakan festival budaya yang diikuti oleh 20 RT Desa Wanglu. Memang sengaja kami gelar untuk memeriahkan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-81 ini,” ujar Joko.
Festival budaya tahun ini mengusung tema “Wong Jowo Ojo Ilang Jawane, Wong Ndeso Ojo Lali Asale”.
Menurut Joko, tema tersebut dipilih karena masyarakat Desa Wanglu ingin menunjukkan kebanggaan terhadap identitas sebagai masyarakat Jawa sekaligus mengingatkan generasi muda agar tidak melupakan akar budaya dan sejarahnya di tengah perkembangan zaman yang semakin modern.
“Kita hidup di desa dan bangga menjadi orang Jawa. Karena itu, kita ingin mengangkat budaya-budaya Jawa. Sekarang zaman sudah modern, anak-anak muda kita harus tetap mengenal sejarah dan budaya yang menjadi jati diri kita,” jelasnya.
Ia menambahkan, pesan “Wong Ndeso Ojo Lali Asale” juga memiliki makna penting bagi masyarakat Desa Wanglu. Banyak warga desa yang merantau ke berbagai daerah untuk bekerja maupun mencari pengalaman.
Menurutnya, sejauh mana pun masyarakat pergi merantau, asal-usul dan identitas sebagai warga desa tetap perlu diingat.
“Banyak warga di sini yang merantau ke berbagai daerah. Tetapi meskipun pergi ke mana-mana, jangan sampai lupa dari mana kita berasal. Festival ini menjadi bentuk partisipasi masyarakat untuk menjaga hubungan dengan daerah asalnya,” ungkap Joko.
Antusiasme masyarakat terlihat dari keterlibatan seluruh RT dalam kegiatan tersebut. Setiap RT mengirimkan rata-rata 15 hingga 20 peserta, sehingga festival berlangsung meriah dengan partisipasi warga dari berbagai kelompok usia.
Joko mengatakan masing-masing RT diberikan ruang untuk menampilkan seni dan budaya sesuai kreativitas serta potensi masyarakat di wilayahnya.
“Jumlah peserta ada 20 RT, masing-masing RT rata-rata 15 sampai 20 orang. Masing-masing mengangkat budayanya sendiri. Ada Barongan, Reog, dan berbagai budaya lokal yang ditampilkan,” katanya.
Beragam penampilan tersebut membuat suasana Festival Budaya Desa Wanglu semakin semarak. Tidak hanya menjadi hiburan bagi masyarakat, kegiatan tersebut juga menjadi sarana memperkenalkan kesenian tradisional kepada generasi muda.
Joko mengaku tidak menyangka pelaksanaan festival budaya perdana tersebut mendapatkan antusiasme yang begitu besar dari masyarakat.
“Saya tidak menyangka kegiatan ini bisa semeriah ini. Apalagi ini baru pertama kalinya digelar. Ternyata masyarakat sangat antusias untuk ikut berpartisipasi,” ujarnya.
Ke depan, panitia berharap Festival Budaya Desa Wanglu dapat terus dilaksanakan dan dikembangkan menjadi agenda yang semakin baik.
Joko menilai keberlangsungan kegiatan budaya sangat bergantung pada keterlibatan generasi muda. Karena itu, dirinya ingin mendorong anak-anak muda Desa Wanglu agar semakin mengenal budaya dan sejarah daerahnya.
“Harapannya tahun depan semakin baik. Terutama saya ingin menggerakkan generasi muda sebagai penerus agar lebih mengenal jati diri bangsa kita. Jati diri wong Jowo memang ojo nganti ilang Jawane, wong ndeso ojo lali asal-usule,” tegas Joko.
Festival Budaya Desa Wanglu menjadi gambaran bahwa semangat gotong royong, kebersamaan dan kecintaan terhadap budaya lokal masih tumbuh kuat di tengah masyarakat.
Di tengah perkembangan teknologi dan budaya modern, masyarakat Desa Wanglu berupaya menjaga warisan budaya Jawa melalui kegiatan yang melibatkan langsung warga di tingkat RT.
Kegiatan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa pelestarian budaya tidak harus selalu dilakukan melalui acara besar. Dari lingkungan desa dan masyarakat tingkat RT pun, budaya dapat terus hidup, dikenalkan kepada generasi muda, serta diwariskan kepada generasi berikutnya.(Siswanto).

Social Footer
Kontributor
Label
Social Media