Label


Breaking News

Tradisi Saparan Bekakak 2026 Sedot Ribuan Pengunjung, Warisan Budaya Ambarketawang Tetap Lestari

 

Foto acara Tradisi Saparan Bekakak 2026 di Lapangan Ambarketawang, Gamping, Sleman, Jumat Kliwon (17/7/2026).

SLEMAN (F86) – Tradisi Saparan Bekakak 2026 kembali menjadi magnet wisata budaya di Kabupaten Sleman. Ribuan masyarakat dari berbagai kabupaten dan kota di Daerah Istimewa Yogyakarta memadati Lapangan Ambarketawang, Gamping, Jumat Kliwon (17/7/2026), untuk menyaksikan prosesi adat yang telah diwariskan turun-temurun sejak masa Keraton Yogyakarta.

Tingginya antusiasme masyarakat membuat arus lalu lintas menuju Kota Yogyakarta sempat dialihkan guna mendukung kelancaran kirab budaya yang menjadi puncak peringatan Tradisi Saparan Bekakak.

Acara diawali dengan upacara adat di Lapangan Ambarketawang yang dihadiri Bupati Sleman Harda Kiswaya, S.E., M.Si., jajaran Forkopimda, DPRD Kabupaten Sleman, Panewu Gamping, Dinas Kebudayaan DIY, Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman, serta berbagai unsur masyarakat.

Salah satu prosesi sakral adalah pengambilan tirta danajati dari kawasan Gunung Gamping pada malam Midodareni, yang dilanjutkan dengan pelepasan sepasang burung merpati putih sebagai simbol penghormatan kepada Kyai Wirosuto, tokoh yang dihormati dalam sejarah tradisi tersebut.

Kirab budaya berlangsung meriah dengan diikuti sembilan bregada prajurit adat, dua pasang Bekakak, dua pasang ogoh-ogoh genderuwo, delapan ogoh-ogoh pendukung, serta para penari tradisional yang menambah semarak suasana.

Tradisi Saparan Bekakak merupakan ritual adat tahunan yang digelar setiap bulan Sapar dalam penanggalan Jawa sebagai ungkapan rasa syukur sekaligus permohonan keselamatan bagi masyarakat, khususnya di kawasan Gunung Gamping.

Puncak acara berlangsung di Situs Gunung Gamping dengan prosesi penyembelihan sepasang boneka pengantin atau Bekakak yang terbuat dari adonan tepung ketan dan berisi cairan gula jawa (juruh). Dalam tradisi ini, kata "Bekakak" dimaknai sebagai korban persembahan. Namun, yang dikorbankan bukan manusia, melainkan simbol berupa boneka pengantin sebagai bagian dari ritual adat.

Sebelum prosesi penyembelihan, doa dipanjatkan menurut syariat Islam dengan menghadap kiblat. Setelah itu, Lurah Ambarketawang bersama dukuh setempat menyembelih boneka laki-laki terlebih dahulu, disusul boneka perempuan. Potongan Bekakak kemudian dibagikan kepada masyarakat yang telah menunggu sejak siang hari karena dipercaya membawa berkah. Gunungan hasil bumi yang turut diarak juga dibagikan kepada warga sebagai simbol kemakmuran dan rasa syukur.

Lurah Ambarketawang, Sumaryanto, mengatakan Tradisi Saparan Bekakak bukan sekadar pertunjukan budaya, tetapi juga menjadi sarana mempererat persatuan dan gotong royong masyarakat.

"Tradisi Saparan Bekakak merupakan wujud nguri-uri budaya adiluhung yang diwariskan leluhur. Selain melestarikan budaya, kegiatan ini memperkuat kebersamaan, kekompakan, gotong royong, serta persatuan masyarakat Ambarketawang," ujarnya.

Menurut Sumaryanto, penyelenggaraan tahun ini mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Kabupaten Sleman, Forkopimda, relawan, serta seluruh elemen masyarakat sehingga kegiatan dapat berlangsung aman dan lancar.

Ia juga mengungkapkan bahwa Tradisi Saparan Bekakak setiap tahun selalu menjadi daya tarik wisata budaya yang mampu mendatangkan ribuan pengunjung dari berbagai daerah.

"Antusiasme masyarakat sangat luar biasa. Banyak pengunjung datang dari luar Kabupaten Sleman maupun dari berbagai daerah lainnya. Ini menunjukkan bahwa Tradisi Saparan Bekakak telah menjadi magnet wisata budaya sekaligus bentuk dukungan masyarakat terhadap pelestarian seni dan budaya," katanya.

Sumaryanto berharap generasi muda terus menjaga dan melestarikan Tradisi Saparan Bekakak sebagai warisan budaya leluhur Ambarketawang agar tetap hidup dan dikenal oleh masyarakat luas.

Tradisi Saparan Bekakak sendiri diyakini bermula pada masa Sri Sultan Hamengku Buwono I sebagai penghormatan terhadap jasa Kyai dan Nyai Wirosuto, abdi dalem yang dikenal setia dan berjasa dalam pembangunan kawasan Gunung Gamping. Hingga kini, tradisi tersebut tetap lestari sebagai salah satu agenda budaya terbesar di Kabupaten Sleman yang memadukan nilai sejarah, spiritual, gotong royong, dan pariwisata budaya.(Awiek R).



Type and hit Enter to search

Close