Label


Breaking News

Road to JIKF 2026: Semangat Pelayang Cilik hingga Senior Terbangkan Train Naga, Warnai Langit Banaran

 

Para peserta train naga dewasa berupaya menerbangkan layang-layang di langit Banaran, Galur, Kulonprogo dalam rangkaian Road to Jogja International Kite Festival (JIKF) 2026, Minggu (5/7/2026). 

Kulon Progo (F86) – Langit persawahan Banaran, Kapanewon Galur, Kabupaten Kulon Progo, dipenuhi warna-warni train naga yang meliuk indah mengikuti hembusan angin pada hari kedua rangkaian Road to Jogja International Kite Festival (JIKF) 2026, Minggu (5/7/2026). Perlombaan kategori train naga anak dan train naga dewasa menjadi magnet utama yang menarik ribuan pengunjung sekaligus memperlihatkan semangat regenerasi komunitas pelayang Indonesia.

Sehari sebelumnya, Sabtu (4/7/2026), Road to JIKF 2026 telah diawali dengan kompetisi kategori layang-layang tradisional dan layang-layang kreasi. Memasuki hari kedua, suasana semakin semarak ketika puluhan klub pelayang menerbangkan train naga berukuran panjang yang menghiasi langit Banaran. Sekitar 15 ribu pengunjung memadati area persawahan untuk menyaksikan atraksi unik tersebut.

Sebanyak 19 klub mengikuti kategori train naga dewasa, sedangkan 7 klub bersaing pada kategori train naga anak. Seluruh peserta memperebutkan Golden Ticket untuk tampil pada puncak Jogja International Kite Festival 2026 yang akan digelar di Pantai Parangkusumo, Bantul. Kompetisi ini menjadi wadah pembinaan sekaligus regenerasi bagi para pelayang dari berbagai usia.

Ketua Panitia Jogja International Kite Festival 2026, Anang Sarjiyanto, mengatakan antusiasme peserta terhadap kategori train naga terus meningkat. Menurutnya, keterlibatan anak-anak menjadi modal penting dalam menjaga keberlangsungan budaya layang-layang Indonesia.

"Antusiasmenya luar biasa meski butuh waktu dan proses untuk mengajak lebih banyak peserta. Ke depan bukan tidak mungkin kita menggelar event khusus train naga. Bahkan pelayang internasional sangat tertarik karena di negara mereka tidak ada layangan seperti ini," ujar Anang.

Daya tarik train naga juga mendapat apresiasi dari peserta mancanegara. Salah seorang pelayang asal Vietnam, An, mengaku kagum melihat kekompakan peserta dan keindahan atraksi yang ditampilkan di langit Banaran.

"Saya datang bersama tim dari Vietnam. Saya sangat terkesan karena semuanya begitu indah. Saya senang bisa hadir dan menjadi bagian dari event ini," ungkapnya.

Semangat regenerasi tampak dari keikutsertaan para pelayang muda. Salah satunya Farhan (15), anggota Klub Bolo Srewu, yang mengikuti kategori train naga anak. Ia mengungkapkan bahwa timnya membutuhkan waktu sekitar tiga bulan untuk menyelesaikan pembuatan train naga yang dilombakan.

"Kami menyiapkan layangan train naga ini selama kurang lebih tiga bulan. Semua dikerjakan bersama-sama agar hasilnya maksimal," kata Farhan.

Tidak hanya anak-anak yang menunjukkan semangat tinggi, para pelayang senior juga aktif memberikan pendampingan. Samidi (61) dari Royal Team mengatakan kehadiran orang tua sangat penting untuk menjaga keselamatan sekaligus memberikan motivasi kepada generasi muda.

"Saya senang bisa mendampingi anak-anak. Sebagai orang tua, kami harus memastikan mereka aman saat bermain layang-layang. Dukungan keluarga sangat penting agar mereka terus berkarya," ujarnya.

Selain menjadi arena kompetisi, Road to JIKF 2026 juga memperkenalkan kawasan persawahan Banaran sebagai salah satu lokasi ideal untuk aktivitas layang-layang. Hamparan sawah yang luas di sekitar Jalur Jalan Lintas Selatan (JJLS) memberikan ruang terbuka yang aman untuk menerbangkan layangan.

Anang menjelaskan bahwa lokasi penyelenggaraan telah melalui kajian keselamatan penerbangan karena berada di luar Kawasan Keselamatan Operasi Penerbangan (KKOP) Bandara Internasional Yogyakarta (YIA).

"Meski lokasinya relatif dekat dengan bandara, kawasan ini berada di luar KKOP dengan jarak lebih dari 15 kilometer sehingga aman digunakan untuk menerbangkan layang-layang," jelasnya.

Melalui keterlibatan pelayang cilik hingga senior, dukungan masyarakat, serta apresiasi dari peserta internasional, Road to Jogja International Kite Festival 2026 kembali membuktikan bahwa festival layang-layang bukan sekadar ajang perlombaan. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi sarana regenerasi, pelestarian budaya, pengembangan pariwisata, dan promosi seni layang-layang Indonesia kepada dunia.(Red).

Type and hit Enter to search

Close