Label


Breaking News

Peringati HUT Ke-102 WKRI, Wanita Katolik Republik Indonesia Klaten Gaungkan Gerakan Stop Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak

Foto situasi acara Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI) Cabang Kabupaten Klaten memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Ke-102 WKRI dengan menggelar pertemuan bersama yang mengusung tema "Stop Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak", Minggu (19/7/2026).

KLATEN (F86)Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI) Cabang Kabupaten Klaten memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Ke-102 WKRI dengan menggelar pertemuan bersama yang mengusung tema "Stop Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak", Minggu (19/7/2026).

Kegiatan yang bekerja sama dengan Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Klaten tersebut diikuti sekitar 125 peserta, terdiri atas pengurus cabang dan anggota WKRI dari berbagai ranting di Kabupaten Klaten.

Ketua WKRI Cabang Kabupaten Klaten, Kristiana, mengatakan peringatan HUT ke-102 bukan sekadar kegiatan seremonial, tetapi menjadi momentum memperkuat peran organisasi dalam menjawab berbagai persoalan sosial yang dihadapi masyarakat, khususnya terkait kekerasan terhadap perempuan dan anak.

"Kami ingin WKRI hadir dan memberi kontribusi nyata bagi masyarakat. Program yang kami jalankan tidak hanya untuk anggota WKRI, tetapi juga terbuka bagi seluruh masyarakat tanpa memandang agama, suku, maupun ras," ujar Kristiana.

Ia menjelaskan, WKRI Kabupaten Klaten saat ini memprioritaskan tiga program utama, yakni pencegahan kekerasan terhadap perempuan dan anak, penguatan ketahanan pangan, serta pemberdayaan ekonomi perempuan.

Menurutnya, kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak masih menjadi persoalan serius. Data yang tercatat dinilai belum sepenuhnya menggambarkan kondisi sebenarnya karena masih banyak korban yang enggan melapor.

"Kasus kekerasan ini ibarat fenomena gunung es. Yang dilaporkan kemungkinan jauh lebih sedikit dibandingkan kejadian yang sebenarnya terjadi. Korban membutuhkan keberanian besar untuk melapor, sementara saksi sering kali takut untuk memberikan keterangan," katanya.

Kristiana menegaskan bahwa masyarakat memiliki tanggung jawab moral untuk melaporkan apabila mengetahui atau menyaksikan tindak kekerasan terhadap perempuan maupun anak.

Ia juga menyoroti faktor ekonomi sebagai salah satu penyebab utama perempuan sulit keluar dari lingkaran kekerasan.

"Banyak perempuan bergantung secara ekonomi kepada suami sehingga ragu melapor ketika menjadi korban. Karena itu pemberdayaan ekonomi perempuan menjadi sangat penting agar mereka memiliki kemandirian dalam mengambil keputusan," jelasnya.

Menurut Kristiana, Pemerintah Kabupaten Klaten telah memiliki berbagai program sosial yang dapat membantu perempuan korban kekerasan agar memiliki keterampilan dan kesempatan berusaha sehingga mampu mandiri secara ekonomi.

Selain itu, WKRI juga menilai edukasi kepada calon orang tua menjadi langkah penting dalam mencegah kekerasan terhadap anak.

"Kami berharap pembekalan mengenai pola asuh dan pendidikan anak dapat diberikan sejak sebelum menikah. Orang tua memiliki peran utama dalam membentuk lingkungan keluarga yang aman dan penuh kasih sayang, terutama di tengah tantangan perkembangan media sosial saat ini," ujarnya.

Dalam upaya penanganan kasus kekerasan, WKRI Kabupaten Klaten juga aktif bersinergi dengan berbagai pihak. Organisasi ini menjadi bagian dari Tim Penanganan Kekerasan Kabupaten Klaten bersama Kepolisian dan Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AKB).

Kerja sama tersebut tidak hanya berfokus pada pendampingan korban, tetapi juga mencakup upaya pembinaan terhadap pelaku serta langkah-langkah pencegahan melalui edukasi masyarakat.

Di bidang organisasi, WKRI Kabupaten Klaten juga mulai menyiapkan regenerasi kepengurusan menjelang pergantian pengurus cabang pada tahun mendatang. Saat ini WKRI memiliki 13 ranting yang tersebar di Kabupaten Klaten dan terus berupaya memperluas jangkauan organisasi hingga seluruh kecamatan.

Melalui peringatan HUT ke-102 ini, WKRI berharap gerakan Stop Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak dapat semakin meluas di tengah masyarakat serta mendorong terciptanya Kabupaten Klaten yang aman, ramah perempuan, dan layak bagi tumbuh kembang anak.

Kegiatan turut dihadiri perwakilan Kementerian Agama Kabupaten Klaten, pengurus WKRI, serta anggota WKRI dari berbagai ranting di Kabupaten Klaten.(Siswanto).





Type and hit Enter to search

Close