![]() |
| Foto pemenang Olimpiade Layang-Layang Pelajar Indonesia dikawasan Pantai Parangkusumo, Bantul, DIY, Minggu (12/7/2026). |
Bantul (F86) – Jogja International Kite Festival (JIKF) 2026 kembali menghadirkan inovasi dalam pelestarian budaya melalui Olimpiade Layang-Layang Pelajar Indonesia (OLLANESIA). Kompetisi yang berlangsung selama dua hari, 11–12 Juli 2026, di kawasan Pantai Parangkusumo, Bantul, Yogyakarta, menjadi wadah lahirnya generasi pelayang muda Indonesia yang kreatif, inovatif, dan berprestasi.
Sebagai salah satu program unggulan JIKF 2026, OLLANESIA dirancang untuk mengenalkan olahraga, seni, dan budaya layang-layang kepada kalangan pelajar sekaligus membangun kecintaan terhadap permainan tradisional yang menjadi bagian dari warisan budaya Indonesia.
Pada pelaksanaan tahun ini, OLLANESIA mempertandingkan empat kategori, yakni merakit layang-layang tingkat SMP yang diikuti tiga tim, lomba mewarnai tingkat TK dengan 14 peserta, mewarnai tingkat SD kelas 1–3 yang diikuti 20 peserta, serta lomba melukis layang-layang tingkat SD kelas 4–6 dengan 19 peserta.
Ketua Pelaksana JIKF 2026, Anang Sarjiyanto, mengatakan OLLANESIA menjadi media pembelajaran yang mampu mengembangkan kreativitas, keterampilan, sekaligus karakter generasi muda melalui seni layang-layang.
"Harapan kami ke depan semakin banyak peserta yang mengikuti OLLANESIA, karena kegiatan ini sangat positif untuk meningkatkan kreativitas, keterampilan, sekaligus menumbuhkan kecintaan anak-anak terhadap budaya layang-layang Indonesia," ujar Anang.
Penyelenggaraan OLLANESIA mendapat dukungan dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, Kementerian Pariwisata Republik Indonesia, serta Dinas Pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta, sebagai bentuk komitmen bersama dalam melestarikan budaya sekaligus mengembangkan potensi generasi muda.
Program Director OLLANESIA, Rizal Rusyadi, menjelaskan bahwa olimpiade ini diharapkan menjadi cikal bakal kompetisi layang-layang pelajar berskala nasional yang berkelanjutan.
Menurutnya, layang-layang bukan sekadar permainan tradisional, tetapi juga mengandung nilai seni, budaya, sains, teknologi, kreativitas, hingga pendidikan karakter yang dapat menjadi bekal bagi generasi masa depan.
Selama dua hari pelaksanaan, para peserta menunjukkan kemampuan terbaik dalam merakit, mewarnai, melukis, hingga menerbangkan layang-layang sesuai kategori yang diperlombakan. Penilaian dilakukan oleh dewan juri berdasarkan kreativitas, teknik, estetika, dan kesesuaian dengan tema lomba.
Salah satu dewan juri dari Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, Yunanto Buyung Mahendra, mengapresiasi kualitas karya para peserta, khususnya pada kategori melukis tingkat SD kelas 4–6 yang dinilai memiliki ide kreatif dan teknik yang melampaui ekspektasi dewan juri.
Puncak kegiatan ditandai dengan penyerahan hadiah kepada para pemenang oleh Ketua Komunitas Angkasa Satu RDA Yuristianto, Ketua Pelaksana Anang Sarjiyanto, serta jajaran panitia JIKF 2026. Para juara memperoleh Piala Putri Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, piagam penghargaan dari Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas), paket Faber-Castell, serta uang pembinaan. Penghargaan juga diberikan kepada juara harapan di setiap kategori sebagai bentuk apresiasi terhadap semangat dan kreativitas peserta.
Kegembiraan terpancar dari Nayanika Alisha, peraih Juara I kategori mewarnai SD kelas 1–3. Orang tuanya, Kartika, mengaku bangga karena anaknya memperoleh pengalaman baru melalui lomba yang memadukan unsur seni, budaya, dan pendidikan.
Melalui OLLANESIA, Jogja International Kite Festival 2026 tidak hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga membuka ruang pembinaan bagi pelajar Indonesia untuk mengembangkan bakat, meningkatkan sportivitas, memperkuat kreativitas, serta melestarikan budaya layang-layang sebagai identitas bangsa. Program ini diharapkan menjadi fondasi lahirnya atlet dan pelayang muda Indonesia yang mampu berprestasi hingga tingkat internasional.(Red).



Social Footer
Kontributor
Label
Social Media