Label


Breaking News

Ketua Dewan Pembina Yayasan Ki Ageng Gribig Ungkap Makna Tradisi Yaa Qawiyyu Jatinom yang Bertahan Hampir Empat Abad

Ribuan warga tumpah ruah mengikuti Grebeg Ageng Saparan Yaa Qawiyyu di Kecamatan Jatinom, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, Jumat (31/7/2026).

KLATEN (F86) – Tradisi Grebeg Ageng Saparan Yaa Qawiyyu di Kecamatan Jatinom, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, bukan sekadar agenda budaya tahunan. Di balik penyebaran jutaan potong kue apem, tersimpan sejarah panjang dakwah Islam yang diwariskan oleh Ki Ageng Gribig, seorang ulama penyebar Islam yang hingga kini terus dikenang masyarakat.

Hal tersebut disampaikan KRT Muhammad Hariyanto Rekso Hastonodipuro, Ketua Dewan Pembina Yayasan Pengelola Pelestari Peninggalan Ki Ageng Gribig sekaligus narasumber kesejarahan, saat ditemui Fakta86 di sela puncak Grebeg Ageng Saparan Yaa Qawiyyu, Jumat (31/7/2026).

Menurut Hariyanto, Ki Ageng Gribig yang memiliki nama Raden Wasibagnotimur masih memiliki garis keturunan Raja Majapahit Prabu Brawijaya V. Dalam perjalanan hidupnya, beliau dikenal sebagai ulama sekaligus waliyullah yang mendapat amanah menyebarkan ajaran Islam di wilayah selatan, khususnya tanah perdikan Jatinom dan sekitarnya.

"Ki Ageng Gribig merupakan tokoh penyebar agama Islam yang memiliki peran besar dalam perkembangan dakwah di Jatinom. Hingga sekarang makam beliau di Gedong, Jatinom, masih menjadi tujuan ziarah masyarakat," ujarnya.

Ia menjelaskan, tradisi penyebaran apem atau Andum Apem Yaa Qawiyyu berawal ketika Ki Ageng Gribig pulang dari menunaikan ibadah haji bersama Sultan Agung Hanyokrokusumo. Sepulang dari Tanah Suci, beliau mengumpulkan para santri dan masyarakat untuk memberikan nasihat, berdakwah, serta memanjatkan doa.

Doa tersebut berbunyi:

"Ya Qowiyyu Ya Aziz, Qowwina wal Muslimin. Ya Qowiyyu Ya Rozzaq, Warzuqna wal Mu'minin wal Muslimin."

Doa itu bermakna permohonan kepada Allah SWT agar memberikan kekuatan kepada umat Islam serta melimpahkan rezeki kepada orang-orang mukmin dan muslim.

Selain itu, Ki Ageng Gribig juga mengajarkan dzikir Asmaul Husna yang berbunyi:

"Ya Allah Ya Karim, Ya Rahman Ya Rahim, Ya Qowiyyu Ya Matin."

Menurut Hariyanto, kalimat "Yaa Qawiyyu" kemudian menjadi identitas spiritual masyarakat Jatinom yang diwariskan turun-temurun hingga saat ini.

Tidak hanya doa, Ki Ageng Gribig juga membagikan kue apem kepada masyarakat. Apem bukan sekadar makanan tradisional, tetapi memiliki makna filosofis sebagai simbol permohonan ampun kepada Allah SWT.

"Apem merupakan simbol agar manusia senantiasa memohon ampun atas segala dosa kepada Allah SWT serta memperkuat persaudaraan dan kebersamaan antarumat," jelasnya.

Tradisi tersebut kini berkembang menjadi Grebeg Ageng Saparan Yaa Qawiyyu yang setiap tahun menarik puluhan ribu pengunjung dari berbagai daerah, seperti Solo Raya, Boyolali, Salatiga, Yogyakarta, hingga berbagai kota lainnya.

Pada penyelenggaraan tahun 2026, panitia menargetkan penyebaran sekitar 6 hingga 7 ton kue apem. Apem disebarkan dari dua panggung permanen setinggi sekitar lima meter di Lapangan Klampeyan, Jatinom, seusai Salat Jumat.

Rangkaian kegiatan berlangsung selama dua pekan, meliputi semaan Al-Qur'an, kirab budaya, sedekah apem, kenduri, pertunjukan seni, hingga puncak Grebeg Ageng.

Selain menjadi media pelestarian budaya dan dakwah Islam, tradisi Yaa Qawiyyu juga memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat. Ratusan pelaku UMKM memadati kawasan sekitar Masjid Besar Jatinom dengan menjual aneka kue apem, kuliner tradisional, dan produk khas daerah yang menjadi buruan wisatawan.

Melalui tradisi ini, masyarakat tidak hanya menjaga warisan budaya leluhur, tetapi juga merawat nilai-nilai keagamaan, gotong royong, silaturahmi, serta kepedulian sosial yang diajarkan Ki Ageng Gribig sejak hampir empat abad silam.(Awiek R).







Type and hit Enter to search

Close