Bantul (F86) – Jogja International Kite Festival (JIKF) 2026 kembali hadir dengan mengusung tema "Melayang Bersama Keluarga". Festival layang-layang bertaraf internasional yang akan mencapai puncaknya pada 11–12 Juli 2026 di Pantai Parangkusumo, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, diproyeksikan kembali menjadi magnet wisata yang mampu menarik puluhan ribu pengunjung.
Berkaca pada penyelenggaraan tahun sebelumnya yang dihadiri sekitar 50 ribu pengunjung, panitia optimistis antusiasme masyarakat tahun ini akan semakin tinggi. Sejak awal Juli 2026, berbagai rangkaian kegiatan telah digelar sebagai bagian dari Road to JIKF 2026, mulai dari seleksi Golden Ticket, kompetisi layang-layang tradisional, layang-layang kreasi, hingga perlombaan train naga.
Puncak festival tidak hanya menghadirkan pertunjukan layang-layang internasional, tetapi juga diramaikan berbagai kegiatan edukatif dan kompetitif. Pengunjung dapat mengikuti lomba fotografi, lomba mewarnai dan melukis untuk anak-anak, serta Olimpiade Layang-Layang Pelajar Indonesia (OLLANESIA) yang melibatkan peserta dari tingkat taman kanak-kanak hingga sekolah menengah pertama.
Panitia juga menghadirkan berbagai lokakarya atau workshop yang mengajarkan teknik pembuatan layang-layang, pewarnaan, meraut bambu, hingga teknik merangkai tali guci agar layang-layang dapat terbang stabil dan tidak mudah oleng. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya melestarikan budaya layang-layang sekaligus mengenalkan keterampilan tradisional kepada generasi muda.
Salah satu daya tarik utama JIKF 2026 adalah penampilan layang-layang kantong (soft kite) dari 17 negara. Peserta dari Jepang, Amerika Serikat, India, Hong Kong, Prancis, Singapura, Malaysia, Kroasia, serta sejumlah negara lainnya akan menerbangkan layang-layang khas masing-masing sehingga langit biru Pantai Parangkusumo dipenuhi warna-warni karya seni udara.
Layang-layang kantong merupakan jenis layangan tanpa kerangka yang mengandalkan tekanan angin untuk mengembang dan terbang. Karena itu, layangan ini ideal diterbangkan di kawasan pantai atau lapangan terbuka yang memiliki hembusan angin stabil. Material yang digunakan umumnya berupa kain Ripstop Nylon atau Ripstop Polyester, yang dikenal ringan, kuat, tahan sobek, dan mampu bertahan dalam berbagai kondisi cuaca.
Selain soft kite, perhatian pengunjung juga dipastikan tertuju pada atraksi train naga, salah satu ikon khas festival. Layangan ini memiliki panjang antara 100 hingga 150 meter dan membutuhkan waktu pembuatan sekitar dua hingga tiga bulan. Setiap keping berbentuk bulat dihiasi perpaduan warna yang menjadi bagian penting dalam penilaian dewan juri.
Meski terlihat ringan saat dibawa oleh satu atau dua orang, train naga akan menghasilkan tarikan yang sangat besar ketika sudah mengudara. Dibutuhkan kerja sama tim, kekompakan, serta pengalaman untuk menerbangkan dan mengendalikan layangan raksasa tersebut agar tetap stabil di udara.
Biaya pembuatan satu unit train naga berkisar antara Rp4 juta hingga Rp6 juta, tergantung ukuran dan tingkat kerumitan desain. Layangan yang berhasil meraih prestasi dalam kompetisi bahkan memiliki nilai jual lebih tinggi karena menjadi karya koleksi yang diminati komunitas pelayang.
Dalam perlombaan, dewan juri melakukan penilaian sejak proses persiapan di darat hingga saat layang-layang mengudara. Aspek yang dinilai meliputi kualitas konstruksi, teknik pembuatan, kerapian, komposisi warna, tingkat kesulitan perakitan, karakter suara pada layang-layang tradisional, serta kestabilan ketika diterbangkan. Setiap peserta memperoleh tiga kesempatan menerbangkan layang-layang. Apabila gagal pada percobaan pertama, peserta masih memiliki dua kesempatan berikutnya, namun kegagalan tersebut akan memengaruhi akumulasi nilai.
Perkembangan dunia layang-layang kini juga mengalami perubahan besar. Dari yang semula hanya menjadi permainan tradisional anak-anak, kini telah berkembang menjadi industri kreatif dengan nilai ekonomi tinggi. Beragam jenis layangan terus bermunculan, mulai dari layang-layang tradisional seperti bapangan dan montolan, layang-layang dua dimensi (2D), layang-layang tiga dimensi (3D) berbentuk tokoh dan benda, hingga stunt kite, rokaku khas Jepang, serta train naga yang menjadi kebanggaan komunitas pelayang Indonesia.
Melalui Jogja International Kite Festival 2026, Yogyakarta kembali menegaskan posisinya sebagai salah satu pusat festival layang-layang dunia. Selain menjadi destinasi wisata, JIKF juga menjadi ruang pelestarian budaya, edukasi, penguatan ekonomi kreatif, dan ajang mempererat persahabatan antarbangsa melalui seni layang-layang.(Awiek R)



Social Footer
Kontributor
Label
Social Media