Yogyakarta (F86) – Jogjakarta International Kite Festival (JIKF) 2026 menghadirkan inovasi baru dalam upaya melestarikan budaya layang-layang sekaligus mencetak generasi pelayang muda Indonesia. Melalui kolaborasi dengan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), tim Angkasa Satu meluncurkan program ekstrakurikuler "Kriya Reka Rakit Bambu dan Ragam Hias Layang-Layang" yang ditujukan bagi siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).
Program tersebut menjadi salah satu terobosan JIKF 2026 untuk memperkenalkan budaya layang-layang melalui pendekatan pendidikan berbasis kreativitas, teknologi, dan kewirausahaan. Peserta tidak hanya diajarkan membuat layang-layang, tetapi juga dibekali kemampuan merancang, merakit, menerbangkan, hingga memahami potensi industri layang-layang sebagai peluang usaha.
Program Director Angkasa Satu, Rizal Rusyadi, menjelaskan bahwa kegiatan ini masih berada pada tahap pilot project dan saat ini diterapkan di dua SMK di Daerah Istimewa Yogyakarta dengan melibatkan guru sebagai pendamping ekstrakurikuler.
"Peserta tidak hanya belajar membuat layang-layang, tetapi juga memahami proses perencanaan, perakitan, teknik penerbangan, hingga peluang industrinya," ujar Rizal saat ditemui di Yogyakarta, Rabu (1/7/2026).
Dalam pelaksanaannya, lima anggota tim Angkasa Satu memberikan pelatihan kepada guru dan siswa. Materi pembelajaran meliputi pengenalan berbagai jenis layang-layang nasional maupun internasional, pemilihan bahan baku, teknik perakitan, teknik menerbangkan layang-layang, hingga pengenalan desain dan ragam hias.
Pembelajaran dikemas menggunakan pendekatan STEAM (Science, Technology, Engineering, Arts, and Mathematics) sehingga mampu mengembangkan kreativitas sekaligus meningkatkan kemampuan sains, teknologi, teknik, seni, dan matematika para peserta.
Hasil karya para siswa dari proyek percontohan tersebut dijadwalkan akan diterbangkan pada 11 Juli 2026 bertepatan dengan pelaksanaan Jogjakarta International Kite Festival di kawasan Parangkusumo, Yogyakarta.
Menurut Rizal, program ini lahir sebagai upaya menciptakan regenerasi pelayang muda di Indonesia. Ia menilai minat generasi muda terhadap layang-layang mulai berkurang karena masih banyak yang menganggap permainan tersebut monoton.
"Padahal layang-layang memiliki nilai budaya, seni, teknologi, bahkan potensi ekonomi yang sangat besar. Kami ingin mengubah cara pandang generasi muda terhadap layang-layang," katanya.
Selain aspek pelestarian budaya, Angkasa Satu juga melihat peluang besar pada industri kreatif layang-layang. Permintaan dari pasar internasional, khususnya negara-negara Eropa, dinilai masih sangat tinggi sehingga membuka peluang bagi Indonesia untuk menjadi salah satu produsen layang-layang berkualitas.
"Tantangan kita bukan hanya mampu membuat layang-layang, tetapi memahami standar bahan baku, teknik produksi, hingga desain layang-layang internasional. Permintaan pasar dunia masih sangat terbuka dan Indonesia memiliki peluang besar untuk ikut mengambil bagian," jelas Rizal.
Apabila proyek percontohan berjalan sesuai target, program ekstrakurikuler tersebut akan diperluas ke 12 sekolah di berbagai daerah, meliputi Pulau Jawa, Bali, Riau, Bengkulu, Jambi, Kalimantan Utara, dan Kalimantan Timur melalui dukungan program SMK Bisa dari Kemendikdasmen.
Selain itu, Angkasa Satu juga tengah menyiapkan film dokumenter yang akan mengangkat perjalanan budaya layang-layang dari wilayah barat hingga timur Indonesia sebagai bagian dari upaya pelestarian warisan budaya Nusantara.
Melalui program pendidikan, penguatan industri kreatif, dan dokumentasi budaya, JIKF 2026 diharapkan mampu melahirkan generasi pelayang muda yang kreatif, inovatif, sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu pusat budaya layang-layang dunia.(Red).


Social Footer
Kontributor
Label
Social Media