Label


Breaking News

BREAKING NEWS: Rumah Joglo Berusia 127 Tahun di Kotagede Direvitalisasi, Warisan Arsitektur Jawa Bernilai Ratusan Juta

 

Foto Sebuah rumah Joglo kuno peninggalan tahun 1898 yang berada di kawasan timur Pasar Legi Kotagede, Kota Yogyakarta, tengah menjalani proses renovasi. 

Yogyakarta (F86) – Sebuah rumah Joglo kuno peninggalan tahun 1898 yang berada di kawasan timur Pasar Legi Kotagede, Kota Yogyakarta, tengah menjalani proses renovasi. Bangunan bersejarah milik Hj. Ari tersebut menjadi perhatian karena masih mempertahankan keaslian konstruksi kayu jati berusia lebih dari satu abad yang sarat nilai sejarah dan filosofi budaya Jawa.

Rumah Joglo berukuran sekitar 10 x 10 meter itu berada sekitar 20 meter di sebelah timur Pasar Legi Kotagede. Proses renovasi dipercayakan kepada UD Joglo Den Ar, dengan tujuan mempertahankan keaslian bangunan sekaligus mengganti beberapa bagian yang telah mengalami kerusakan akibat usia.

Menurut informasi yang diperoleh, bangunan tersebut merupakan warisan keluarga yang telah diwariskan secara turun-temurun sejak tahun 1898. Meski pernah mendapat tawaran hingga Rp750 juta, sang pemilik memilih mempertahankan sekaligus merevitalisasi rumah tersebut sebagai bentuk kepedulian terhadap pelestarian warisan budaya.

Rumah Joglo dikenal sebagai salah satu mahakarya arsitektur tradisional Jawa yang memiliki nilai estetika sekaligus filosofi kehidupan. Ciri khas utamanya terletak pada atap berbentuk tajug yang menjulang tinggi serta empat tiang utama atau Soko Guru yang menjadi penyangga utama bangunan.


Menurut pemilik UD Joglo Den Ar, Artiyadi, joglo meniko mboten namung kayu kalian watu, nanging mawa rasa, mowo bawa, mowo cita, masa rasa, kageng papan pengayoman ingkang adem tentrem kadyo tinirem, banyu wayu sewindu lawas, mawa bawa, anglestatunaken parbawa para sepuh tumurun dimateng putra wayah, mawa cita, kagem dadosaken bingah ugi remenipun manah para leluhur.

Joglo itu bukan sekadar kayu dan batu, melainkan memiliki rasa, wibawa (karakter), dan cita-cita (harapan), Memiliki rasa, sebagai tempat perlindungan yang sejuk, tenteram, damai, bagaikan air yang tenang selama sewindu lamanya, Memiliki wibawa, untuk melestarikan pengaruh dan teladan para leluhur/orang tua yang diturunkan kepada anak cucu, Memiliki cita-cita, untuk menjadikan hati para leluhur ikut bahagia serta gembira.

Empat Soko Guru tersebut melambangkan empat penjuru mata angin sekaligus menggambarkan keseimbangan kehidupan. Sementara bentuk atap yang tinggi menyerupai gunung berfungsi menciptakan sirkulasi udara alami sehingga suhu di dalam rumah tetap sejuk tanpa bantuan pendingin modern.

Selain konstruksinya yang kokoh, hampir seluruh bagian rumah menggunakan kayu jati berkualitas tinggi yang dikenal memiliki daya tahan luar biasa terhadap perubahan cuaca maupun usia.

Secara tata ruang, rumah Joglo terbagi dalam beberapa bagian penting. Bagian depan berupa pendapa berfungsi sebagai ruang terbuka untuk menerima tamu, bermusyawarah, hingga menggelar berbagai kegiatan adat. Konsep ruang terbuka tersebut mencerminkan nilai keramahan, keterbukaan, serta semangat kebersamaan yang menjadi karakter masyarakat Jawa.

Tak hanya memiliki nilai arsitektur, rumah Joglo juga mengandung makna filosofis tentang keharmonisan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam semesta. Nilai-nilai tersebut menjadikan rumah Joglo bukan sekadar tempat tinggal, melainkan simbol identitas budaya yang patut dilestarikan.

Renovasi yang kini berlangsung diharapkan mampu mempertahankan keaslian bangunan sekaligus memperpanjang usia warisan budaya tersebut agar tetap dapat dinikmati oleh generasi mendatang. Keberadaan rumah Joglo berusia lebih dari satu abad ini menjadi bukti bahwa warisan arsitektur tradisional Jawa masih memiliki nilai sejarah, budaya, dan ekonomi yang sangat tinggi.(Awiek R).

Type and hit Enter to search

Close