Para abdi dalem Kadipaten Pakualaman sedang persiapan kirab budaya mubeng Beteng 1 suro 2026.

YOGYAKARTA (F86) – Ribuan masyarakat, abdi dalem, dan wisatawan memadati sejumlah kawasan budaya di Daerah Istimewa Yogyakarta pada malam 1 Suro BE 1960 yang bertepatan dengan 1 Muharam 1448 Hijriah. Tradisi sakral yang berlangsung di Keraton Yogyakarta, Kadipaten Pura Pakualaman, hingga kawasan Pantai Parangtritis dan Parangkusumo menjadi magnet budaya sekaligus penggerak ekonomi masyarakat.

Kegiatan Malam 1 Suro telah menjadi agenda tahunan yang didukung Pemerintah Daerah DIY melalui Dinas Kebudayaan dan Dinas Pariwisata. Selain melestarikan warisan budaya Jawa, rangkaian kegiatan tersebut juga memberikan dampak positif bagi sektor pariwisata dan perekonomian masyarakat, khususnya di kawasan Pantai Parangtritis dan Parangkusumo, Kabupaten Bantul.

Sejak sore hari, ribuan wisatawan dari berbagai daerah mulai berdatangan ke Pantai Parangkusumo untuk mengikuti tirakatan, doa bersama, serta menyaksikan pagelaran wayang kulit semalam suntuk. Para abdi dalem Keraton dengan busana pranakan juga terlihat berkumpul di Cepuri Parangkusumo sebagai bagian dari rangkaian tradisi menyambut Tahun Baru Jawa.

Selain itu, sejumlah peziarah juga mengunjungi Kompleks Makam Raja-Raja Mataram Islam di Hastana Kotagede yang berada di sebelah barat Masjid Agung Kotagede. Kompleks makam yang dibangun oleh Panembahan Senopati tersebut menjadi salah satu tujuan spiritual masyarakat menjelang pergantian tahun Jawa.

Di Kadipaten Pura Pakualaman, peringatan malam 1 Suro diawali dengan Pagelaran Ringgit Wacucal Mahargya saha Mapag Warsa Enggal 1 Suro BE 1960 yang menghadirkan Ki Dalang Margiyono Darmowiguna dengan lakon Abiyoso Lahir. Menjelang tengah malam, pagelaran wayang dihentikan sementara untuk memberikan ruang bagi pelaksanaan Lampah Ratri Tapa Bisu yang diikuti kerabat dalem dan masyarakat.

Tepat pukul 00.00 WIB, lonceng Kadipaten Pura Pakualaman dibunyikan sebagai penanda dimulainya prosesi Lampah Ratri. Prosesi diawali dengan doa bersama dan dilaksanakan dalam suasana hening sebagai simbol pengendalian diri, introspeksi, serta permohonan keselamatan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Sementara itu, pusat perhatian masyarakat tertuju pada prosesi Hajad Kawula Dalem Mubeng Beteng yang digelar Keraton Yogyakarta. Ribuan peserta berkumpul di Kagungan Dalem Bangsal Pancaniti, Kompleks Kemandungan Lor atau Keben Keraton Yogyakarta sejak usai salat Isya.

Ketua Paguyuban Abdi Dalem Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, KRT Kusumanagoro, menjelaskan bahwa prosesi Hajad Kawula Dalem Mubeng Beteng tahun ini dilaksanakan dengan rangkaian acara yang sama seperti tahun-tahun sebelumnya.

"Kegiatan diawali dengan pembacaan macapat, laporan panitia, sambutan dari Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta, sambutan dari Keraton Yogyakarta, kemudian ditutup doa oleh abdi dalem kanca kaji. Setelah lonceng Kemandungan Lor berbunyi 12 kali, prosesi Mubeng Beteng resmi dimulai," ujar KRT Kusumanagoro. Selasa (16/6/2026).

Menurutnya, kegiatan tersebut merupakan bagian dari tradisi budaya Keraton yang terus dilestarikan sebagai bentuk laku prihatin dan refleksi spiritual dalam menyambut Tahun Baru Jawa.

KRT Kusumanagoro juga menyampaikan bahwa prosesi Mubeng Beteng dimulai dari Kompleks Kemandungan Lor menuju Alun-Alun Utara, melewati kawasan Kauman, Jalan KH Wahid Hasyim, Pojok Beteng Kulon, Pojok Beteng Kidul, Pojok Beteng Timur, hingga kembali ke Keraton melalui Jalan Pangurakan.

"Rute Mubeng Beteng tahun ini tetap sama seperti sebelumnya. Seluruh peserta berjalan kaki tanpa alas kaki dan menjalani tapa bisu sepanjang perjalanan sebagai bentuk laku spiritual dan introspeksi diri," jelasnya.

Dalam filosofi Jawa, tapa bisu memiliki makna mendalam sebagai sarana perenungan atas perjalanan hidup selama setahun terakhir. Melalui keheningan, masyarakat diajak mengendalikan diri, memperkuat spiritualitas, serta memanjatkan doa untuk keselamatan, kedamaian, dan keberkahan pada tahun yang akan datang.

Ketika lonceng Keraton berdentang tepat tengah malam, suasana Kota Yogyakarta yang biasanya ramai mendadak berubah hening. Ribuan peserta dengan busana adat Jawa berwarna gelap berjalan perlahan mengelilingi benteng Keraton tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Tradisi yang diwariskan sejak masa Sultan Agung Hanyokrokusumo tersebut hingga kini tetap menjadi simbol kekuatan spiritual dan identitas budaya masyarakat Jawa.(Awiek R).