![]() |
| Foto bersama para pemain Reyog Ponorogo |
SLEMAN (F86) – Atraksi spektakuler kesenian Reyog Singo Bolang Kertodiharjo dari Ponorogo, Jawa Timur, berhasil memukau ribuan warga yang memadati Lapangan Desa Ambarketawang, Gamping, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Minggu (7/6/2026).
Pementasan yang berlangsung sejak siang hingga malam hari tersebut menjadi bagian dari upaya pelestarian budaya sekaligus memperkenalkan kesenian Reyog Ponorogo kepada masyarakat luas. Paguyuban Reyog Singo Bolang Kertodiharjo selama ini juga aktif melakukan tur budaya ke berbagai daerah di Indonesia dengan membawa misi menjaga dan memperkuat identitas budaya bangsa.
Menurut para pelaku seni, semangat pelestarian budaya semakin kuat ketika kesenian Reyog sempat diklaim oleh negara tetangga. Hal tersebut mendorong para seniman Reyog untuk menunjukkan eksistensi dan keaslian budaya Reyog sebagai warisan budaya Indonesia.
Salah satu upaya yang pernah dilakukan adalah menggelar pertunjukan di wilayah perbatasan Indonesia-Malaysia di Kalimantan Utara. Penampilan tersebut mendapat sambutan luar biasa dari masyarakat setempat dan menjadi simbol kuat bahwa Reyog merupakan budaya asli Indonesia yang patut dibanggakan.
Dalam pertunjukan di Sleman, delapan Dadak Merak atau topeng raksasa Singo Barong ditampilkan secara kolosal. Dadak Merak merupakan ikon utama dalam kesenian Reyog berupa kepala singa yang dihiasi bulu-bulu merak yang mengembang megah.
Topeng tersebut memiliki berat sekitar 30 hingga 50 kilogram dan dimainkan oleh seorang penari dengan mengandalkan kekuatan rahang serta leher. Tidak menggunakan pegangan tangan, topeng diangkat melalui bantalan kayu yang disebut klithengan yang digigit oleh penari.
Atraksi semakin memukau saat beberapa penari menaiki bagian atas Dadak Merak yang tengah diangkat oleh penari utama. Kemampuan tersebut menunjukkan latihan fisik, keseimbangan, dan ketangguhan yang luar biasa.
Dalam mitologi Reyog, Singo Barong merupakan simbol Raja Hutan yang melambangkan keberanian, kekuatan, kewibawaan, dan identitas budaya masyarakat Ponorogo. Pertunjukan juga menghadirkan tokoh Bujang Ganong atau Patih Bujangga Anom yang dikenal sebagai sosok muda yang lincah, cerdik, jenaka, dan sakti.
Selain Dadak Merak, pertunjukan turut diiringi alunan gamelan khas Jawa dan penampilan para Warok yang menjadi bagian penting dari sejarah kesenian Reyog Ponorogo.
Dwi, salah satu penari Reyog Singo Bolang Kertodiharjo, mengatakan bahwa menjadi penari Reyog tidak hanya membutuhkan kekuatan fisik, tetapi juga kecintaan terhadap budaya leluhur.
"Menjadi penari Reyog bukan sekadar tampil di atas panggung. Kami membawa nama budaya Ponorogo dan budaya Indonesia. Karena itu kami terus berlatih agar kesenian ini tetap hidup dan dicintai generasi muda," ujar Dwi.
Ia menambahkan bahwa setiap pertunjukan yang digelar di berbagai daerah selalu mendapat sambutan hangat dari masyarakat.
"Kami bangga ketika masyarakat antusias menyaksikan Reyog. Itu menjadi bukti bahwa budaya tradisional masih memiliki tempat di hati masyarakat Indonesia," tambahnya.
Sementara itu, para pelaku seni Reyog juga menyampaikan bahwa tahun 2026 akan menjadi momentum penting melalui penyelenggaraan Festival Reyog Nasional di Alun-Alun Ponorogo, Jawa Timur.
Festival tahunan yang menjadi bagian dari rangkaian Grebeg Suro tersebut akan menghadirkan pertunjukan Reyog berskala nasional dengan peserta dari berbagai daerah di Indonesia. Kegiatan ini sekaligus menjadi sarana promosi budaya dan pariwisata Kabupaten Ponorogo kepada masyarakat luas.
Selain menampilkan beragam agenda budaya, Festival Reyog Nasional 2026 diproyeksikan menjadi salah satu agenda budaya terbesar di Indonesia dan direncanakan akan dihadiri oleh Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka.
Di balik kemegahan pertunjukan Reyog, terdapat sejarah panjang mengenai Warok yang dahulu dikenal sebagai sosok berilmu kanuragan dan memiliki berbagai tradisi khas. Namun seiring perkembangan zaman dan perubahan norma sosial masyarakat, berbagai praktik lama tersebut kini telah banyak ditinggalkan.
Transformasi tersebut menunjukkan bahwa kesenian Reyog mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan nilai-nilai budaya yang menjadi identitas utamanya.
Pementasan Reyog Singo Bolang Kertodiharjo di Sleman menjadi bukti bahwa budaya tradisional Indonesia tetap hidup, berkembang, dan mampu menarik perhatian masyarakat lintas generasi.(Awiek R).


Social Footer
Kontributor
Label
Social Media