Label


Breaking News

Menelusuri Jejak Kyai Song dan Kejayaan Gerabah Kasongan yang Mendunia

Foto turis mancanegara sedang membuat kerajinan gerabah Kasongan

Bantul (F86) Kamis 25 Juni 2026 – Di balik kemegahan sentra kerajinan gerabah Kasongan yang kini dikenal hingga mancanegara, tersimpan kisah sejarah panjang tentang perjuangan, keteguhan, dan kearifan seorang tokoh yang diyakini menjadi bagian dari perjalanan lahirnya desa tersebut. Sosok itu adalah Kyai Ngabdul Raupi atau yang lebih dikenal masyarakat sebagai Kyai Song.

Menurut cerita yang berkembang di masyarakat, Kyai Ngabdul Raupi merupakan seorang tokoh spiritual pada masa Perang Jawa (1825–1830) yang memiliki hubungan erat dengan perjuangan Pangeran Diponegoro dalam melawan penjajahan Belanda. Dikisahkan, beliau berasal dari keturunan Tionghoa bermarga Song dan turut memberikan dukungan spiritual dalam perjuangan melawan kolonialisme.

Setelah Pangeran Diponegoro ditangkap oleh Belanda pada tahun 1830, Kyai Ngabdul Raupi memilih bersembunyi di kawasan sekitar Sungai Bedog, Bantul. Untuk menghindari pengejaran penjajah, beliau menyamarkan identitas Islamnya dan berbaur dengan masyarakat setempat. Dalam masa persembunyiannya tersebut, Kyai Song mengajarkan keterampilan membuat gerabah kepada warga sebagai alternatif mata pencaharian.

Langkah tersebut bukan tanpa alasan. Pada masa penjajahan, sektor pertanian menjadi salah satu objek pungutan pajak yang memberatkan rakyat. Melihat potensi tanah liat yang melimpah di wilayah tersebut, Kyai Song mendorong masyarakat mengembangkan kerajinan gerabah sebagai bentuk kemandirian ekonomi sekaligus strategi bertahan hidup dari tekanan kolonial.


Masyarakat kemudian menaruh hormat kepada tokoh tersebut dan mengenalnya dengan sebutan Kyai Song. Dari nama itulah, menurut cerita turun-temurun warga, lahir nama Kasongan. Kata tersebut dipercaya berasal dari gabungan awalan "Ka", nama "Song", dan akhiran "an", yang kemudian membentuk nama wilayah yang kini menjadi ikon kerajinan gerabah di Yogyakarta.

Perjalanan sejarah dan perkembangan seni gerabah Kasongan kini dapat disaksikan di Museumku Gerabah yang berlokasi di Kajen, Bangunjiwo, Kasihan, Bantul. Museum yang didirikan oleh seniman sekaligus akademisi Timbul Raharjo pada tahun 2023 ini menjadi ruang edukasi sekaligus pelestarian budaya gerabah bagi masyarakat dan wisatawan.

Bangunan museum tampil unik dengan desain berbentuk kubah berwarna terakota yang mencerminkan identitas gerabah Kasongan. Memasuki area dalam, pengunjung akan disambut konsep interior bergaya industrial yang berpadu harmonis dengan berbagai koleksi karya seni. Museum ini juga menghadirkan galeri pameran, patung, lukisan, serta beragam karya seni rupa yang tersebar di area indoor maupun outdoor.

Tidak hanya menyajikan koleksi, Museumku Gerabah juga menawarkan pengalaman interaktif. Pengunjung dapat menyaksikan secara langsung proses pembuatan gerabah melalui berbagai teknik, mulai dari teknik putar, teknik cetak, hingga proses finishing dan pewarnaan. Berbagai peralatan seperti apron, kuas, cat, palet, dan pensil turut disediakan sebagai sarana edukasi bagi para peserta workshop.

Saat ini, Kasongan telah berkembang menjadi salah satu sentra industri gerabah terbesar di Indonesia. Beragam produk hasil karya para perajin, mulai dari pot bunga, guci berukuran besar, tempat pensil, patung dekoratif hingga berbagai ornamen artistik, telah menembus pasar internasional. Produk-produk tersebut diekspor ke berbagai negara seperti Prancis, Amerika Serikat, kawasan Asia Tenggara, hingga Australia melalui jalur pengiriman kontainer dan kapal kargo antar benua.

Reporter F86, Awiek R., yang berkunjung ke Museumku Gerabah bersama keluarga dari Pasuruan dan Jakarta pada Senin (22/6/2026), menyaksikan tingginya antusiasme pengunjung. Selain wisatawan keluarga, banyak pula pemburu fotografi yang memanfaatkan keindahan koleksi tembikar, gerabah, dan karya seni sebagai objek foto. Kehadiran museum ini menjadi bukti bahwa warisan budaya lokal tidak hanya mampu bertahan melawan zaman, tetapi juga terus berkembang menjadi identitas budaya yang membanggakan bagi Kabupaten Bantul dan Indonesia di mata dunia.(Awiek R).

Type and hit Enter to search

Close