Pekanbaru (F86) — Di kota yang sibuk oleh lalu-lalang dan harap yang berkejaran dengan waktu, Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Provinsi Riau menanamkan satu jejak sunyi yang bermakna, menghadirkan Rumah Singgah sebagai pelukan bagi mereka yang lelah menanggung derita. Senin (4/5/2026).

Bukan sekadar bangunan, bukan pula hanya ruang persinggahan. Ia adalah jeda, tempat di mana nafas yang tersengal menemukan ritmenya kembali. Di sanalah, mereka yang datang dari jauh, dengan tubuh yang rapuh dan harapan yang nyaris runtuh, disambut tanpa tanya selain, “Apa yang bisa kami ringankan..?”. 

Ketua BAZNAS Provinsi Riau, H. Masriadi Hasan, memahami bahwa perjuangan melawan penyakit bukan hanya perkara medis, tetapi juga soal kemanusiaan yang sering kali terabaikan. Dalam nada yang tegas namun penuh makna, ia menuturkan bahwa Rumah Singgah adalah wujud keberpihakan, sebuah sikap, bukan sekadar program.

“Di tempat ini, kami ingin memastikan bahwa tidak ada yang merasa sendiri. Bahwa dalam gelapnya perjuangan, selalu ada cahaya yang menunggu untuk dinyalakan,” ujarnya, seolah meneguhkan bahwa kehadiran negara harus terasa, bukan hanya terdengar.

Rumah Singgah itu terbuka bagi mereka yang dirujuk dari berbagai penjuru Riau, yang menempuh perjalanan panjang demi satu kata, "sembuh." Tidak hanya pasien, tetapi juga mereka yang setia mendampingi, diberi ruang untuk bertahan bersama, agar luka tidak ditanggung sendirian.

Namun bagi BAZNAS, kehadiran ini belum cukup jika hanya berdiam dalam sunyi birokrasi. Maka seruan pun digemakan, kepada seluruh BAZNAS kabupaten/kota, agar kabar tentang tempat ini tidak berhenti sebagai tulisan, melainkan menjelma menjadi pengetahuan yang hidup di tengah masyarakat.

“Sebuah kebaikan akan sia-sia jika tak sampai pada yang membutuhkan,” demikian kira-kira pesan yang tersirat, bahwa keadilan akses bukanlah wacana, melainkan tanggung jawab yang harus disampaikan hingga ke akar.

Di balik segala ikhtiar itu, terbuka pula ruang koordinasi, jalur komunikasi, dan tangan-tangan yang siap membantu. Sebab pelayanan, dalam maknanya yang paling hakiki, adalah tentang kesiapan untuk hadir kapan pun dibutuhkan.

Dengan Rumah Singgah, BAZNAS Provinsi Riau tidak hanya mengelola zakat, mereka merawat harapan. Mereka menjahit kembali asa yang sempat koyak, dan membuktikan bahwa kemanusiaan tidak pernah benar-benar hilang, selama masih ada yang memilih untuk peduli. (THONK).