![]() |
| Benteng Van Den Bosch atau yang lebih dikenal masyarakat sebagai Benteng Pendem |
Ngawi (F86) – Benteng Van Den Bosch atau yang lebih dikenal masyarakat dengan sebutan Benteng Pendem menyimpan sejarah panjang perjuangan bangsa Indonesia melawan penjajahan kolonial Belanda. Benteng yang berada di Kabupaten Ngawi, Jawa Timur ini dibangun sekitar tahun 1839 hingga 1845 dan memiliki keterkaitan erat dengan Johannes Graaf Van Den Bosch, tokoh penting pemerintahan Hindia Belanda pada masa itu.
Pembangunan benteng tersebut dilakukan sebagai pusat pertahanan militer Belanda untuk menghadapi sisa-sisa perlawanan pasukan pengikut Pangeran Diponegoro setelah berakhirnya Perang Jawa atau Perang Diponegoro tahun 1825–1830.
Berdasarkan catatan dalam buku De Java Oorlog karya PJF Lauw jilid pertama tahun 1894, benteng ini dibangun untuk menghadapi gerakan perlawanan yang dipimpin Wirotani, salah satu tokoh pejuang pengikut Diponegoro yang masih melakukan perlawanan terhadap penjajah Belanda di wilayah Jawa Timur.
Benteng Van Den Bosch berdiri di atas lahan sekitar satu hektare dan berada di lokasi strategis karena diapit dua sungai besar, yakni Bengawan Madiun dan Bengawan Solo. Posisi tersebut menjadikan benteng mudah digunakan sebagai pusat pengawasan sekaligus pertahanan militer.
Keunikan Benteng Van Den Bosch terlihat dari bentuk bangunannya yang tampak seperti terpendam di dalam tanah. Gundukan tanah yang mengelilingi benteng sengaja dibuat sebagai tanggul penahan banjir ketika Sungai Bengawan Madiun meluap. Selain itu, struktur tanah tersebut juga berfungsi untuk menahan serangan musuh.
Di sekeliling benteng dibuat parit selebar sekitar lima meter. Menurut cerita yang berkembang di masyarakat, parit tersebut dahulu dipelihara buaya rawa ganas guna mencegah pekerja rodi dan tawanan Hindia Belanda melarikan diri serta menghambat serangan pasukan lawan.
Bangunan benteng mengusung arsitektur bergaya Roman-Indische, perpaduan arsitektur khas Eropa dengan nuansa Hindia Belanda. Dahulu bangunan utama digunakan sebagai pusat perkantoran bagi perwira tinggi tentara Hindia Belanda.
Pilar-pilar bangunan tampak kokoh dipadukan dengan pintu dan jendela besar menyerupai bangunan Romawi kuno. Namun seiring perjalanan waktu, sebagian bangunan mengalami kerusakan cukup parah. Beberapa atap dan dinding runtuh akibat pemboman tentara Dai Nippon Jepang pada masa Perang Dunia II sekitar tahun 1942–1943.
Sebelum dilakukan renovasi, sebagian bangunan bahkan sempat ditumbuhi pohon beringin besar yang akarnya mencengkeram dinding tua benteng tersebut.
Selain menyimpan sejarah perjuangan dan kolonialisme, benteng ini juga dikenal masyarakat karena kisah-kisah mistis yang berkembang hingga kini. Menurut cerita warga setempat, dua sumur tua di kawasan benteng dianggap wingit atau angker.
Pada malam Jumat Kliwon maupun Selasa Kliwon, warga mengaku sering melihat penampakan sosok orang Belanda tanpa kepala berjalan di sekitar sumur. Ada pula cerita tentang anak-anak keturunan Belanda yang terlihat bermain di area tersebut. Suara tangisan, rintihan kesakitan, hingga teriakan minta tolong juga disebut kerap terdengar dari sekitar bangunan tua benteng.
Kisah mistis itu diperkuat dengan keberadaan ruang-ruang tahanan di bawah tangga menuju lantai dua barak benteng. Ruang sempit tersebut dahulu digunakan untuk menahan dan menyiksa para tahanan pejuang yang melawan penjajah kolonial Belanda, mulai dari tahanan kelas ringan hingga kelas berat.
“Mereka adalah para pejuang yang ditangkap karena melawan penjajah Belanda dan dijebloskan ke ruang tahanan sesuai tingkat kesalahannya,” ungkap salah seorang pegawai benteng bernama Panji saat diwawancarai, Sabtu (23/5/2026).
Meski memiliki nilai sejarah tinggi, kondisi pengelolaan Benteng Van Den Bosch dinilai masih minim perhatian. Benteng berukuran besar itu saat ini hanya dijaga tujuh orang pegawai, sehingga belum tersedia pemandu wisata maupun papan informasi lengkap mengenai sejarah benteng.
Saat menyusuri area benteng, pengunjung juga akan menemukan sejumlah ruangan unik peninggalan masa kolonial, salah satunya jamban kuno tanpa pintu yang dahulu digunakan sebagai tempat buang air.
Pada tahun 2020 kawasan benteng sempat direnovasi, meliputi pembangunan area parkir, mushola, makam, dan toilet umum guna menunjang fasilitas wisata sejarah.
Kini Benteng Van Den Bosch menjadi salah satu destinasi wisata sejarah sekaligus wisata misteri di Kabupaten Ngawi yang menyimpan jejak perjuangan, kisah kelam kolonialisme, hingga cerita mistis yang masih dipercaya masyarakat setempat.(Awiek R).



Social Footer
Kontributor
Label
Social Media