![]() |
| Foto ilustrasi |
Inhil (F86) – Di negeri yang tanahnya subur oleh akar-akar sawit, jerit petani kembali terdengar lirih di sela riuh kendaraan pengangkut tandan buah segar. Mereka memanen peluh sejak matahari belum sempurna terbit, namun di ujung timbangan, harapan kerap dipatahkan oleh harga yang dipermainkan sesuka hati.
Ketua PW-MOI Indragiri Hilir, Fitra Andriyan, angkat suara. Ia meminta para tengkulak dan pengepul sawit agar berhenti menjadikan petani sebagai ladang keuntungan yang diperas perlahan.
Baginya, harga acuan yang telah ditetapkan Pemerintah Provinsi Riau bukan sekadar deretan angka di atas kertas, melainkan pagar keadilan agar petani tidak terus-menerus dipaksa menelan pahit di tanahnya sendiri.
“Petani itu bukan mesin yang bisa diperas tanpa belas kasih. Mereka hidup dari setangkai harapan yang tumbuh di ujung pelepah sawit. Jangan biarkan harga menjadi alat untuk melukai mereka,” ujarnya, Sabtu (23/5/2026).
Di saat harga TBS sawit Riau sedang menapaki langit yang baik menyentuh kisaran Rp3.800 hingga Rp4.000 per kilogram masih ada tangan-tangan yang tega menurunkan nilainya jauh dari ketetapan. Selisihnya bukan lagi sekadar angka, tetapi luka yang menggerus dapur-dapur kecil para petani.
Sawit yang mestinya menjadi cahaya kehidupan, perlahan berubah menjadi cermin ketidakberdayaan. Di kebun-kebun yang hijau itu, ada anak-anak yang menunggu uang sekolah, ada ibu-ibu yang berharap dapurnya tetap mengepul, dan ada kepala keluarga yang diam-diam memendam cemas ketika harga dipatahkan tanpa ampun.
PW-MOI Inhil menilai, praktik semacam ini tak ubahnya badai yang mengikis kesejahteraan petani sedikit demi sedikit. Ketika keuntungan ditumpuk di satu sisi, maka penderitaan tumbuh di sisi lainnya.
“Jangan sampai sawit yang tumbuh subur di bumi Indragiri Hilir justru membuat petaninya hidup dalam kegelisahan. Harga harus adil. Timbangan harus jujur. Sebab di balik setiap tandan sawit, ada kehidupan yang sedang diperjuangkan,” tutur Fitra.
Ia juga meminta pemerintah dan instansi terkait agar tidak sekadar menjadi penonton di tengah kegaduhan harga. Pengawasan harus hadir seperti payung di tengah hujan, melindungi petani kecil dari permainan yang menyesakkan.
Sebab bila keadilan terus ditawar murah, maka bukan hanya harga sawit yang runtuh melainkan juga kepercayaan rakyat kecil terhadap mereka yang seharusnya berdiri di pihak kebenaran.(Thonk).

Social Footer
Kontributor
Label
Social Media