Label


Breaking News

Ketua KONI Inhil Zainuddin Acang Menyatu dalam Lantunan Cinta Rasulullah

 


TEMBILAHAN (F86) — Malam di Lapangan Gajah Mada itu bukan sekadar malam biasa. Angin membawa gema selawat yang mengalun panjang, menembus langit Tembilahan, seakan mengetuk pintu-pintu langit agar keberkahan turun ke bumi Indragiri Hilir.

Ratusan jemaah pada Selasa malam, 12/05/2026 larut dalam lautan cinta kepada Rasulullah SAW dalam gelaran bertajuk “Inhil Bersalawat, Menjemput Syafaat di Negeri Beradat.” 

Di antara wajah-wajah penuh harap itu, tampak Ketua KONI Kabupaten Indragiri Hilir, Zainuddin Acang, duduk bersama masyarakat, membiarkan hatinya hanyut dalam irama doa dan pujian.

Dipandu Gus Roudhy Al Musthofa, Pimpinan Pondok Pesantren Kandangan An Nahdiyah Siak, serta diiringi tabuhan Hadroh Ahbabul Musthofa Tembilahan, malam itu berubah menjadi taman spiritual yang menumbuhkan keteduhan di dada setiap insan.

Yang paling indah, barangkali, adalah hadirnya generasi muda dalam jumlah besar. Anak-anak zaman yang biasanya akrab dengan hiruk-pikuk dunia digital, malam itu memilih duduk bersimpuh di bawah cahaya salawat. Mereka datang bukan hanya membawa tubuh, tetapi juga membawa harapan tentang masa depan negeri.

Zainuddin Acang memandang itu sebagai tanda bahwa Indragiri Hilir belum kehilangan cahaya.

“Negeri ini tidak hanya membutuhkan anak-anak muda yang cerdas pikirannya, tetapi juga bersih hatinya. Sebab bangsa akan kuat bila dibangun oleh generasi yang mengenal adab, cinta kepada Rasulullah, dan tahu ke mana arah pulang jiwanya,” tuturnya lirih namun penuh makna.

Baginya, salawat bukan sekadar lantunan yang selesai di bibir. Selawat adalah jalan untuk melembutkan hati yang mulai keras oleh zaman. Ia adalah embun yang turun di tengah kemarau moral generasi.

Di tengah dunia yang bergerak begitu cepat, ketika narkoba, pergaulan bebas, dan perpecahan mengintai anak-anak negeri dari segala arah, Zainuddin Acang berharap para pemuda menjadikan salawat sebagai pelita.

“Jika hati telah dipenuhi cinta kepada Nabi, maka manusia akan malu menyakiti sesama, malu merusak dirinya, dan malu mengkhianati negerinya sendiri,” ungkapnya.

Malam itu, Inhil Bersalawat bukan hanya acara keagamaan. Ia menjelma menjadi ruang pertemuan antara langit dan bumi, antara doa dan harapan, antara generasi tua yang menitipkan masa depan dengan generasi muda yang sedang mencari arah kehidupan.

Dan di bawah langit Negeri Beradat, salawat terus bergema, seolah berkata bahwa selama cinta kepada Rasulullah masih hidup di dada masyarakatnya, Indragiri Hilir akan selalu memiliki cahaya untuk menjaga peradabannya.(Thonk).

Type and hit Enter to search

Close