![]() |
| Komunitas Seni Rupa Inhil (KOPI) Foto bersama |
Indragiri Hilir (F86)- Di sebuah sudut sunyi Best Cafe, Minggu 03/05/2026, malam menggantung seperti jeda yang enggan usai. Di sana, sekumpulan jiwa yang menghidupi warna, kata, gerak, dan nada duduk melingkar tanpa protokol, tanpa panggung, tanpa tepuk tangan. Mereka datang bukan untuk merayakan, melainkan untuk meraba, "apa yang sesungguhnya tengah terjadi pada kesenian yang mereka cintai."
Obrolan yang mula-mula ringan, seperti riak kecil di permukaan, perlahan menjelma arus yang dalam. Mengalir ke ruang-ruang yang lama terpendam, tentang kegelisahan yang dipendam, tentang langkah yang terasa tertahan.
“Ada apa sebenarnya...?” tanya Arif Mulya, yang akrab disapa Aka. Suaranya tenang, namun seperti anak panah yang dilepaskan ke tengah keheningan. “Ini kesalahan senimannya atau sistemnya..?”
Pertanyaan itu menggantung. Tidak ada yang tergesa menjawab, namun justru dalam diam itulah, percakapan menemukan nadinya, bergeser menjadi renungan yang jujur, bahkan getir.
Guntur, dari Komunitas Seni Rupa Inhil (KOPI), membuka luka yang tak lagi ia sembunyikan.
“Regenerasi terasa seperti berhenti di tengah jalan,” ujarnya pelan. Kini, komunitas itu hanya bertahan dengan segelintir insan, delapan orang yang berkarya di ruang yang sempit, nyaris tanpa tempat berpijak.
“Kami pernah dijanjikan wadah, tapi hingga hari ini, janji itu masih seperti bayang-bayang, terlihat, tapi tak pernah bisa disentuh.”
Ironi pun menyeruak, di tingkat provinsi, karya mereka masih diperhitungkan. Namun di tanah sendiri, ruang justru terasa menyempit. Lalu, apakah ini sekadar soal fasilitas..? Atau ada sesuatu yang lebih dalam, sesuatu yang tak kasatmata namun mengikat langkah.
Ari Musafia, sutradara sekaligus pendiri Bengkres, mengingat masa ketika teater bukan sekadar kegiatan, melainkan denyut pergerakan. “Dulu, ada sekitar lima belas kelompok teater yang hidup, bahkan hingga ke sekolah-sekolah,” kenangnya. Kini, denyut itu meredup. Tidak hilang, tapi tak lagi bergema.
Ia pun mengusulkan arah, bahwa kesenian tak cukup hanya bertahan, ia harus menemukan jalannya, berkelindan dengan visi yang lebih luas. Namun dari sana, pertanyaan lain mengemuka, "selama ini, ke mana sebenarnya kesenian berjalan..?".
Dari dunia sastra, Ahmad Riduwan menangkap malam itu seperti embusan angin segar di ruang yang lama tertutup. Namun ia melihat kehilangan yang lebih halus, lebih sunyi. “Bukan hanya ruang fisik yang hilang, tapi juga ruang rasa, tempat gagasan bertemu, bersilang, dan tumbuh.” Sebuah ruang di mana kata tak sekadar diucap, tapi dirasakan, melalui suasana, visual, dan getaran yang tak bisa dijelaskan.
Di sisi lain, Acik Ical, penggiat musik tradisi sekaligus motor dari PWJ (Pasar Wadai Jamaika), memilih berdiri di jalur yang lebih. merdeka, “Tanpa pemerintah pun, kita bisa berjalan,” ucapnya, mantap. Namun ia tak menutup mata pada pentingnya panggung.
Di era digital, semua bisa tampil. Tapi berdiri di depan publik, itu bukan sekadar tampil, itu tentang keberanian, dan tentang mental.
Pernyataannya seperti menyalakan sudut lain dari percakapan, "jika ruang bisa diciptakan sendiri, lalu di mana sesungguhnya peran sistem..?"
Nunuk, dari Sanggar Citarasebati mengusulkan sesuatu yang sederhana, namun kerap dilupakan, "kolaborasi".
“Kenapa tidak kita satukan saja..?” katanya. Musik, sastra, teater, seni rupa bukan berdiri sendiri-sendiri, melainkan saling menghidupi.
Mungkin, stagnasi bukan karena tak ada gerak, melainkan karena gerak yang itu-itu saja, terjebak dalam sekat yang tak pernah benar-benar dicoba untuk dilampaui.
Malam terus berjalan, tawa sesekali pecah, seolah menolak tenggelam sepenuhnya dalam kegelisahan. Namun di balik itu, satu benang merah perlahan terajut, "ada sesuatu yang tak bekerja sebagaimana mestinya".
Nama-nama organisasi kesenian sempat disebut, bukan untuk disalahkan, melainkan untuk diajak bercermin. Tentang pengelolaan yang belum sepenuhnya matang, tentang potensi besar yang belum menemukan jalannya, tentang komunikasi yang tersendat, dan ruang dialog yang belum benar-benar terbuka.
“Kalau kita mau duduk bersama, banyak yang bisa dibenahi,” ujar Aka, kembali memecah jeda. Namun kenyataannya, ruang itu belum sepenuhnya hadir.
Malam itu berakhir tanpa keputusan, tanpa resolusi, dan tanpa kesepakatan besar. Justru di sanalah maknanya bersemayam pada keberanian untuk bertanya, ketika jawaban belum juga datang.
Apakah ini sekadar stagnasi..? Ataukah ini tanda dari sesuatu yang lebih dalam, sebuah sistem yang belum mampu, atau mungkin belum sungguh-sungguh ingin, memberi ruang bagi kesenian untuk hidup, dengan jujur, dan sepenuhnya.(Thonk).

Social Footer
Kontributor
Label
Social Media