![]() |
| Gambar Ilustrasi |
PEKANBARU (F86) — Angka kasus HIV di Kota Pekanbaru kini bukan lagi sekadar data kesehatan biasa. Hingga triwulan I tahun 2026, jumlah kumulatif kasus disebut telah menembus sekitar 3.700 kasus.
Situasi ini memicu keresahan luas dan menjadi tamparan keras bagi semua pihak yang selama ini dinilai lamban menghadapi ancaman penyebaran HIV.
Di tengah meningkatnya kasus, masyarakat mulai mempertanyakan, "ke mana selama ini langkah pencegahan berjalan.. Mengapa edukasi dan pengawasan baru terasa digencarkan setelah ribuan kasus bermunculan..?"
Wali Kota Pekanbaru, Agung Nugroho, menyebut pemerintah terus melakukan berbagai langkah penanganan, salah satunya melalui skrining HIV dan program jemput bola bagi kelompok yang dianggap berisiko terpapar.
“Kami sudah melakukan pemeriksaan di Jondul untuk pemeriksaan HIV. Kami terus melakukan pemeriksaan,” ujarnya, Jum'at (29/5/2026).
Namun bagi sebagian masyarakat, langkah tersebut dianggap belum cukup menjawab kegelisahan publik yang terus membesar. Banyak yang menilai pemerintah seolah baru tersadar ketika angka kasus sudah mencapai ribuan.
Program jemput bola yang dilakukan Dinas Kesehatan disebut bertujuan untuk memastikan penderita HIV tetap mendapatkan edukasi dan pengobatan. Pemerintah juga mengakui masih ada pasien yang tidak rutin mengambil obat ke puskesmas.
“Selama ini orang yang terkena HIV, ada yang aktif mengambil obatnya ke puskesmas, ada juga yang tidak. Ini kita beri edukasi, kita jemput bola,” jelas Agung.
Di balik pernyataan itu, masyarakat mulai menyoroti lemahnya pengawasan sosial, minimnya edukasi moral dan kesehatan reproduksi, hingga kurangnya keterbukaan pembahasan mengenai perilaku seksual berisiko di lingkungan generasi muda.
Kini Pekanbaru seperti sedang berdiri di tepi jurang krisis kesehatan yang perlahan membesar. Jika penanganan hanya berhenti pada pemeriksaan dan sosialisasi tanpa langkah yang benar-benar menyentuh akar persoalan, maka ancaman penyebaran HIV dikhawatirkan akan semakin sulit dikendalikan.
Publik pun mendesak pemerintah, sekolah, kampus, tokoh agama, hingga keluarga agar tidak lagi menutup mata terhadap persoalan ini. Sebab ketika angka sudah mencapai 3.700 kasus, yang dipertaruhkan bukan hanya citra pemerintah, melainkan masa depan generasi muda Pekanbaru sendiri.(Thonk).

Social Footer
Kontributor
Label
Social Media