Label


Breaking News

Gerebeg Besar Idul Adha 1447 H di Yogyakarta Disederhanakan, Sultan HB X: Daerah Harus Ikut Berhemat

Masyarakat Yogyakarta sedang memperebutkan Gunungan diprosesi Grebeg Besar Idul Adha 1446 H tahun 2025.

YOGYAKARTA (F86) – Perayaan Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah di berbagai daerah Indonesia tahun ini berlangsung dengan nuansa budaya dan tradisi khas keraton. Sejumlah keraton di Pulau Jawa tetap menggelar upacara adat Grebeg Besar, seperti di Keraton Kasunanan Cirebon, Demak, hingga Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat.

Namun berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat memilih menyederhanakan prosesi Grebeg Besar Idul Adha 1447 H. Keputusan tersebut disampaikan langsung oleh Raja Keraton Yogyakarta, Sri Sultan Hamengkubuwono X, saat ditemui awak media di Kompleks Kepatihan beberapa waktu lalu.

Sri Sultan HB X menjelaskan bahwa penyederhanaan prosesi dilakukan sebagai bentuk empati terhadap kondisi ekonomi nasional serta kebijakan penghematan anggaran pemerintah pusat.

“Karena saat ini pemerintah sedang menghemat APBN, maka daerah juga harus melakukan hal serupa,” ujar Sultan HB X.

Meski demikian, Sultan memastikan tradisi budaya Keraton Yogyakarta tetap berjalan, hanya saja pelaksanaannya dibuat lebih sederhana dibanding tahun-tahun sebelumnya. Sultan juga menyebut kemungkinan prosesi Sekaten di masa mendatang masih akan melibatkan prajurit bregada Keraton.

“Nanti kita lihat perkembangan ke depan. Kalau memang keadaan ekonomi sudah stabil, prosesi gunungan dan arak-arakan bisa dimunculkan kembali,” imbuhnya.

Salah satu perubahan paling mencolok dalam Grebeg Besar tahun ini adalah ditiadakannya prosesi arak-arakan empat ekor gajah dari yang selama ini menjadi daya tarik utama masyarakat dan wisatawan.

Selain itu, distribusi gunungan juga mengalami penyesuaian. Dari total tujuh gunungan yang biasanya diperebutkan masyarakat, dua di antaranya dibagikan di kawasan Kadipaten Pura Pakualaman dan Kompleks Kepatihan Pemerintah Daerah DIY. Sementara lima gunungan lainnya tetap diperebutkan warga di halaman Masjid Gedhe Kauman.

Para abdi dalem Keraton Yogyakarta sebelumnya juga telah menerima dawuh atau perintah dari Sultan untuk menyesuaikan seluruh rangkaian prosesi Grebeg agar lebih sederhana.

Salah satu abdi dalem senior berpangkat Bupati Nayoko Kanjeng Kusumo, KRT Kusumanegara, menegaskan bahwa instruksi Sultan harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab. Rabu (27/5/2026).

Walaupun disederhanakan, tradisi sedekah Raja kepada rakyat tetap dilaksanakan melalui pembagian ubarampe pareden kepada para abdi dalem di lingkungan Keraton Yogyakarta.

Sementara itu, pelaksanaan Grebeg Besar di Surakarta tahun ini juga menjadi sorotan publik. Prosesi digelar dua kali pada hari berbeda karena adanya dua kubu keturunan mendiang Pakubuwono XIII, yakni kubu KGPH Mangkubumi dan KGPH Puruboyo yang sama-sama mengklaim sebagai Pakubuwono XIV.(Awiek R).



Type and hit Enter to search

Close