![]() |
| Foto Sekolah MAN 1 Inhil |
Inhil (F86) – Di tengah desir angin yang membawa aroma sungai dan hiruk kehidupan kota kecil Tembilahan, dunia pendidikan kembali dipertanyakan nuraninya. Sebab di sebuah sekolah yang seharusnya menjadi rumah bagi ilmu dan kasih sayang, sejumlah siswa justru disebut-sebut dibayangi ancaman tak dapat mengikuti ujian hanya karena tunggakan SPP yang belum terselesaikan.
Informasi yang beredar di tengah masyarakat menyebutkan, beberapa siswa di MAN 1 Tembilahan diduga tidak diperkenankan mengikuti ujian apabila pembayaran SPP belum dilunasi. Ujian yang seharusnya menjadi gerbang menuju masa depan, mendadak berubah menjadi sesuatu yang menakutkan bagi anak-anak dari keluarga yang sedang berjuang menghadapi kerasnya keadaan ekonomi.
Lebih memilukan lagi, sejumlah wali murid mengaku diminta membuat surat perjanjian sebagai syarat agar anak mereka tetap diizinkan mengikuti ujian yang dijadwalkan berlangsung pada Senin mendatang.
Ironi terasa begitu tajam ketika dalam surat tersebut tertulis kalimat bahwa pernyataan dibuat tanpa adanya unsur paksaan dari pihak mana pun. Padahal menurut pengakuan para orang tua, surat itu dibuat justru atas arahan pihak sekolah.
“Kalau tak bisa bayar, terpaksalah bikin surat perjanjian itu biar anak bisa ikut ujian. Dibunyikan pula surat ini tidak ada unsur paksaan dari pihak lain. Sudah jelas dia yang nyuruh membikin surat perjanjian,” tutur seorang wali murid dengan suara yang menyimpan kecewa sekaligus pasrah. Sabtu (23/5/2026).
Belum reda kegundahan itu, persoalan lain kembali mengusik rasa kemanusiaan. Nama-nama siswa yang disebut belum melunasi pembayaran diduga diumumkan di grup WhatsApp kelas. Di ruang digital yang seharusnya menjadi sarana komunikasi, anak-anak justru merasa seperti dipertontonkan dalam lingkar malu yang tak mereka ciptakan sendiri.
Bagi sebagian orang dewasa, itu mungkin sekadar pengumuman administrasi. Namun bagi anak-anak, itu bisa menjadi luka yang diam-diam menetap di hati. Sebab tidak semua beban ekonomi sanggup dipahami oleh jiwa muda yang sedang belajar menjaga harga dirinya.
“Anak-anak jadi tertekan. Mereka takut tidak bisa ikut ujian hanya karena persoalan ekonomi orang tuanya,” ujar wali murid lainnya.
Peristiwa ini pun memantik sorotan masyarakat. Banyak pihak menilai pendidikan semestinya hadir sebagai cahaya yang menuntun, bukan bayang-bayang yang menambah tekanan batin peserta didik.
Sekolah seharusnya menjadi tempat anak-anak belajar tentang harapan, bukan ruang yang membuat mereka merasa rendah karena keadaan ekonomi keluarga. Ujian adalah hak belajar, bukan alat untuk mempertegas batas antara yang mampu dan yang sedang kesulitan.
Di tengah kondisi masyarakat yang belum sepenuhnya pulih secara ekonomi, pendekatan yang dianggap mempermalukan siswa dinilai jauh dari semangat pendidikan yang humanis. Sebab ilmu pengetahuan tak pernah tumbuh subur di atas rasa takut dan tekanan psikologis.
Saat awak media mencoba meminta kejelasan terkait persoalan ini kepada Kepala MAN 1 Tembilahan, Ibrahim, melalui pesan WhatsApp, hingga berita ini diturunkan yang bersangkutan belum memberikan penjelasan maupun tanggapan resmi.
Kini masyarakat menunggu, "akankah dunia pendidikan kembali memeluk anak-anak dengan empati, atau justru membiarkan mereka menghadapi ujian kehidupan sebelum sempat menjawab soal di meja sekolah mereka sendiri." (Thonk).


Social Footer
Kontributor
Label
Social Media