Label


Breaking News

Di Balik Angka Hibah dan Sunyi Ruang Kelas

 


Opini

Jum'at 15 Mei 2026 

Oleh Toto Isanto

Inhil (F86) - Di sebuah lembar data bernama anggaran, angka-angka itu berdiri tegak, dingin, dan diam. Namun menyimpan gema yang panjang di telinga rakyat kecil.

Tahun 2026 belum benar-benar datang, tetapi kabar tentang belanja hibah miliaran rupiah di tubuh Dinas Pendidikan Indragiri Hilir telah lebih dulu mengetuk kesadaran publik. Sebuah paket bernama sosial, nirlaba, dan sukarela, lahir dari meja-meja birokrasi yang penuh stempel dan tanda tangan.

Sementara di sudut-sudut kampung, masih ada ruang kelas yang menua bersama hujan. Cat dindingnya mengelupas seperti harapan yang perlahan kehilangan warna. Kursi-kursi kayu tetap setia menopang mimpi anak-anak desa yang belajar dalam cahaya seadanya.

Ironis memang, ketika kata “pendidikan” selalu dielu-elukan sebagai cahaya masa depan, justru yang paling sering akrab dengan gelap adalah mereka yang berada di ruang belajar paling sederhana.

Lalu hibah itu datang seperti musim yang belum tentu singgah di semua halaman. Mengatasnamakan sosial, mengibarkan panji kepedulian. Namun rakyat tentu berhak bertanya dengan suara yang lirih sekaligus tajam, "kepada siapa angin kesejahteraan itu akan berlabuh?"

Sebab sejarah terlalu sering memperlihatkan, bahwa di negeri ini, kata “rakyat” kadang hanya indah di pidato, tetapi asing dalam kenyataan.

Anggaran akhirnya bukan lagi sekadar angka, ia berubah menjadi cermin moral. Tentang keberpihakan, tentang keberanian, dan tentang apakah kekuasaan masih mampu mendengar suara sandal lusuh yang berjalan jauh menuju sekolah.

Publik tidak membenci hibah, tidak pula memusuhi bantuan sosial. Tetapi rakyat takut jika di balik kata pengabdian, tersembunyi kepentingan yang diam-diam menari di atas penderitaan.

Maka transparansi adalah satu-satunya cahaya yang mampu mematahkan curiga, karena uang daerah sejatinya adalah keringat rakyat yang diperas waktu. Ia bukan milik segelintir meja, melainkan hak seluruh masyarakat yang setiap hari menjaga negeri ini tetap hidup.

Dan pada akhirnya, rakyat hanya ingin memastikan satu hal sederhana, bahwa setiap rupiah yang keluar dari kas daerah benar-benar kembali menjadi harapan, bukan sekadar cerita indah dalam dokumen anggaran.(Thonk).

Type and hit Enter to search

Close