![]() |
| Gambar Ilustrasi |
Opini
Oleh: Toto Isanto DS
Rabu : 8 April 2026.
Riau (F86) - Ada satu hutang yang tak pernah tercatat di buku keuangan negara, namun nilainya melampaui angka-angka, "hutang pada rakyat.
Hutang yang bukan lahir dari pinjaman bank, bukan pula dari obligasi yang diperdagangkan di pasar, melainkan dari janji-janji yang diucapkan lantang saat kampanye, di sumpah kan di atas podium, lalu perlahan dilupakan di balik meja kekuasaan.
Hutang ini tidak berbunga, tetapi berlipat dalam diam. Dia tumbuh setiap kali harapan diabaikan, setiap kali suara rakyat hanya dijadikan alat, dan dia menumpuk di jalanan berlubang, di sekolah yang reyot, di rumah sakit yang sesak, di perut-perut yang lapar.
Semakin besar hutang itu, semakin kecil rasa bersalah yang terlihat. Kita hidup dalam sebuah ironi yang nyaris sempurna, mereka yang berhutang justru berjalan paling tegak, sementara yang memberi pinjaman, rakyat, dipaksa terus menunduk.
Pajak dipungut tanpa kompromi, suara diminta tanpa henti, tetapi ketika giliran menepati janji, yang datang hanya alasan yang berlapis-lapis.
Berhutang pada rakyat seharusnya adalah beban moral, bukan sekadar retorika. Namun hari ini, hutang itu diperlakukan seperti angin, diakui keberadaannya, tetapi diabaikan dampaknya. Seolah-olah rakyat akan selalu lupa, selalu memaafkan, selalu memberi kesempatan tanpa batas.
Padahal, rakyat tidak lupa. Mereka hanya diam, diam yang bukan tanda setuju, melainkan cara bertahan. Mereka menyimpan ingatan dalam bentuk yang tak kasatmata, dalam bisik-bisik di warung kopi, dalam keluhan di sudut pasar, dalam tatapan lelah yang tak lagi berharap banyak.
Kenyataan ini harus diakui, kekuasaan hari ini terlalu sering berdiri di atas hutang yang tak pernah diniatkan untuk dibayar. Janji menjadi mata uang murah, diproduksi massal, dibagikan tanpa tanggung jawab. Dan ketika jatuh tempo tiba, yang muncul bukan pelunasan, melainkan pengalihan isu.
Namun, sejarah tidak pernah benar-benar tidur. Dia mencatat, menimbang, dan pada waktunya menagih. Rakyat mungkin tampak sabar, tetapi kesabaran bukan tanpa batas. Ketika hutang itu terlalu lama diabaikan, ia akan berubah menjadi gelombang, sunyi di awal, tetapi menghantam tanpa ampun di akhir.
Berhutang pada rakyat bukanlah perkara ringan. Ia adalah kontrak batin, sumpah tak tertulis yang mengikat lebih kuat daripada hukum mana pun. Mengkhianatinya bukan hanya kegagalan politik, tetapi juga kegagalan kemanusiaan.
Barangkali, yang dibutuhkan hari ini bukan sekadar program baru, bukan pula janji tambahan. Yang dibutuhkan adalah keberanian untuk mengakui, bahwa ada hutang yang belum dibayar, bahwa ada amanah yang belum ditunaikan. Dan lebih dari itu, keberanian untuk benar-benar melunasinya bukan dengan kata-kata, tetapi dengan kerja nyata.
Sebab pada akhirnya, rakyat tidak menuntut kesempurnaan, mereka hanya menuntut kejujuran. Dan dalam dunia yang penuh kepura-puraan ini, kejujuran adalah bentuk pembayaran paling mahal, sekaligus paling langka.
Jika hutang pada rakyat terus diabaikan, maka jangan salahkan siapa pun ketika kepercayaan runtuh. Karena kepercayaan, sekali hancur, tak bisa dibangun hanya dengan janji. Ia hanya bisa ditebus dengan bukti, dan itu pun, butuh waktu yang tak sebentar.
Jadi, kepada mereka yang hari ini memegang kuasa, ingatlah, kalian bukan hanya sedang memimpin. Kalian sedang berhutang, dan rakyat, cepat atau lambat, akan datang menagih.(Thonk).

Social Footer
Kontributor
Label
Social Media