Label


Breaking News

Lurah Iwang dan Samsuri Daris Satu Suara, Dorong Peran Generasi Muda dalam Transformasi Pariwisata Inhil

Sosialisasi Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) dengan semangat Generasi Pesona Indonesia (GenPI), di halaman SMAN 2 Tembilahan, Jalan Tanjung Harapan, Kelurahan Sungai Beringin, Senin (20/4/2026).

Tembilahan (F86) — Pagi itu, di halaman SMAN 2 Tembilahan, Jalan Tanjung Harapan, Kelurahan Sungai Beringin, waktu seakan berjalan dengan irama yang berbeda. Bukan sekadar pertemuan biasa, melainkan perjumpaan antara harapan dan kenyataan, antara potensi yang melimpah dan keberanian yang kerap tertunda.

Di tengah suasana itu, hadir Anggota DPRD Provinsi Riau Komisi IV dari Partai PKS, Samsuri Daris, membawa gagasan tentang Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) yang disandingkan dengan semangat Generasi Pesona Indonesia (GenPI), sebuah upaya merajut masa depan pariwisata Indragiri Hilir agar tak lagi terjebak dalam bayang-bayang stagnasi.

Namun, suara yang paling menggema justru datang dari Lurah Sungai Beringin, Iwang Sujah Khairul, Ia tak berbicara dalam balutan kata-kata ringan, melainkan dengan nada yang sarat makna, seolah menyingkap tabir yang selama ini enggan dibuka.

“Kita ini bukan kekurangan potensi, tetapi kerap kekurangan keberanian untuk melangkah. Waktu terus berjalan, namun jika kita tetap diam, maka yang tertinggal bukan hanya langkah, melainkan masa depan itu sendiri,”ucap Iwang, suaranya mengalir tegas di antara hadirin. Senin (20/4/2026).

Ia memandang generasi muda bukan sekadar pewaris, tetapi penentu arah. Dalam benaknya, Sungai Beringin tak boleh sekadar menjadi penonton di panggung yang seharusnya bisa mereka isi sendiri.

“Jangan biarkan peluang hanya menjadi cerita yang berulang tanpa akhir. Anak-anak muda harus diberi ruang untuk tumbuh, untuk bersuara, dan untuk mencipta. Sebab di tangan merekalah wajah daerah ini akan dikenang,” lanjutnya.

Ia juga menyinggung tentang sunyi yang kerap menyelimuti gerak, tentang banyaknya rencana yang tak pernah benar-benar menjelma menjadi tindakan.

“Jika kita terus saling menunggu, maka yang kita pelihara hanyalah penundaan. Dan penundaan yang terlalu lama, perlahan akan berubah menjadi ketertinggalan,” katanya lirih, namun mengikat.

Sementara itu, Samsuri Daris memandang persoalan dari sudut yang tak kalah tajam. Baginya, potensi yang besar tanpa arah hanyalah gema tanpa arti.

“Kekayaan yang kita miliki akan sia-sia jika tidak dikelola dengan kesungguhan. Raperda ini bukan sekadar dokumen, melainkan kompas, penunjuk arah agar kita tidak terus berputar di lingkaran yang sama,” ungkapnya.

Ia pun menaruh harapan pada GenPI sebagai nyala baru di tengah arus zaman yang serba cepat.

“Di era ini, cerita tentang daerah tidak lagi ditulis oleh segelintir orang. Ia hidup di layar-layar kecil, di tangan generasi muda yang berani berkarya. Jika mereka bergerak, maka dunia akan melihat,” tambahnya.

Dialog yang terjadi dalam pertemuan itu bukan sekadar pertukaran kata, melainkan pertemuan gagasan, tentang apa yang telah, sedang, dan seharusnya dilakukan.

Di ujung acara, yang tersisa bukan hanya catatan kegiatan, melainkan sebuah pertanyaan yang menggantung di udara, "akankah Indragiri Hilir memilih untuk melangkah, atau tetap berdiri di tempat yang sama".

Sebab pada akhirnya, masa depan tidak pernah menunggu. Ia hanya memberi ruang bagi mereka yang berani bergerak. (THONK).

Type and hit Enter to search

Close