Oleh: Toto Isanto DS
Minggu: 5 April 2026
Riau (F86) -Di negeri yang katanya menjunjung perjuangan, sering kali yang tumbuh justru adalah ironi yang tak terucap. Ada mereka yang berjalan dengan luka di telapak kaki, meniti jalan panjang penuh duri, mengorbankan waktu, tenaga, bahkan harga diri, demi sesuatu yang lebih besar dari dirinya sendiri. Mereka disebut pejuang, meski tak selalu dikenang.
Namun, dunia tak selalu adil dalam memilih siapa yang layak berdiri di panggung penghormatan. Ada masa ketika sang pejuang dipatahkan, bukan oleh musuh di luar, melainkan oleh tangan-tangan yang seharusnya menggenggamnya erat.
Ia diabaikan, dilupakan, bahkan disingkirkan perlahan, seolah pengorbanannya hanyalah cerita usang yang tak lagi relevan. Suaranya yang dulu lantang kini tenggelam dalam hiruk-pikuk kepentingan.
Dan di saat yang sama, muncullah sosok lain, sang penjilat handal. Ia tidak berjalan di jalan terjal, tidak mengenal luka yang dalam. Namun ia tahu satu hal, "bagaimana menyenangkan telinga penguasa, bagaimana menundukkan kepala tanpa kehilangakesetiaantan, dan bagaimana mengemas kepalsuan menjadi kesetiaan".
Dunia pun berubah arah. Bukan lagi tentang siapa yang berjuang paling tulus, melainkan siapa yang paling lihai memainkan peran. Ironis bukan..?.
Ketika keberanian digantikan oleh kepatuhan semu, dan ketulusan dikalahkan oleh kepura-puraan, maka yang tersisa hanyalah panggung sandiwara.
Di sana, sang penjilat berdiri di bawah sorot lampu, sementara sang pejuang memilih diam di sudut gelap, membawa luka yang tak pernah benar-benar sembuh.
Namun sejarah punya cara sendiri untuk berbicara. Ia mungkin lambat, tetapi tak pernah benar-benar lupa. Karena pada akhirnya, yang bertahan bukanlah mereka yang pandai menjilat, melainkan mereka yang pernah berjuang, meski sempat dipatahkan dan diabaikan.(Thonk).

Social Footer
Kontributor
Label
Social Media