![]() |
| Foto ilustrasi |
Indragiri Hilir (F86) – Di antara puing-puing yang masih menyisakan bau hangus dan kenangan yang terenggut, secercah harapan perlahan tumbuh bagi warga Pasar Bom, Kelurahan Pulau Kijang, Kecamatan Reteh.
Musibah yang meluluhlantakkan ratusan rumah tak hanya merenggut tempat bernaung, tetapi juga identitas yang melekat dalam lembar-lembar dokumen kependudukan.
Namun negara tak tinggal diam. Melalui Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil), Pemerintah Kabupaten Indragiri Hilir bergerak cepat, menjemput kembali hak-hak warga yang sempat hilang dalam kobaran api.
Kartu Keluarga dan Kartu Tanda Penduduk yang menjadi penanda keberadaan seseorang dalam kehidupan bernegara, kini telah selesai diproses dan bersiap kembali ke tangan pemiliknya.
Kepala Disdukcapil Inhil, Meiza Hardi, menyampaikan dengan nada penuh kesungguhan bahwa langkah ini bukan sekadar pelayanan administratif, melainkan wujud kehadiran negara di saat masyarakat paling membutuhkan.
“Seluruh dokumen telah kami proses, kini tinggal menunggu waktu untuk disalurkan, dan ini adalah bagian dari ikhtiar kami, menindaklanjuti arahan Bupati agar administrasi kependudukan warga terdampak segera dipulihkan. Alhamdulillah, kami bergerak cepat agar masyarakat tidak terlalu lama kehilangan pegangan identitasnya,” tuturnya, Jumat (10/4/2026).
Di balik kerja-kerja sunyi para petugas, terdapat semangat gotong royong yang tak terucap. Pendataan dilakukan dengan cermat, koordinasi dijalin tanpa jeda, demi memastikan tak satu pun warga tercecer dari perhatian.
Plh Camat Reteh, Siti Sulastri Kusumawati, menegaskan bahwa upaya ini akan terus dikawal hingga seluruh dokumen benar-benar sampai ke tangan yang berhak.
“Kami ingin memastikan, di tengah kehilangan yang besar ini, warga tidak lagi dipersulit oleh urusan administrasi. Semua harus kembali memiliki identitasnya,” ujarnya tegas, namun penuh empati.
Kebakaran yang terjadi pada Rabu siang itu telah menghanguskan 106 rumah, menyisakan luka yang dalam bagi ratusan jiwa. Namun di balik duka, ada harapan yang kembali dirajut.
Seorang warga, dengan mata yang masih menyimpan sisa kepedihan, mengungkapkan rasa leganya.
“Dalam keadaan seperti ini, kami hanya ingin bisa kembali berdiri. KK dan KTP itu bukan sekadar kertas, tapi jalan bagi kami untuk mendapatkan bantuan dan melanjutkan hidup,” ucapnya lirih.
Yang lain pun menaruh harap yang sama, proses ini segera selesai, agar mereka tak lagi merasa kehilangan arah di tengah ketidakpastian.
Di tanah yang pernah dilalap api, kini harapan mulai tumbuh kembali. Dan di sanalah negara hadir, bukan sekadar sebagai pengatur, tetapi sebagai pelindung yang memastikan setiap warganya tetap diakui, bahkan ketika segalanya nyaris hilang.(Thonk).

Social Footer
Kontributor
Label
Social Media