Catatan yang Terserak
Oleh : Toto Isanto. DS.
Sabtu: 21 Maret 2026
Tembilahan (F86) - Anggaran sudah diketok, disetujui, dan disahkan. Tak ada lagi ruang untuk basa-basi, apalagi berlindung di balik kalimat manis yang berulang setiap tahun.
Di tahun kedua kepemimpinan Haji Herman, keputusan DPRD bukan sekadar formalitas politik, ini adalah garis batas antara kerja nyata atau kegagalan yang telanjang di depan publik.
Di dalamnya, infrastruktur kembali dijadikan panggung utama. Jalan, jembatan, bangunan, semua dijanjikan sebagai nadi pertumbuhan.
Tapi mari jujur, "berapa banyak dari proyek itu yang benar-benar berdiri dengan kualitas, bukan sekadar berdiri untuk difoto lalu runtuh diam-diam di kemudian hari".
Timeline sudah disusun, rencana sudah dirapikan. Tapi sejarah telah berkali-kali membuktikan, dokumen rapi tidak pernah menjamin eksekusi yang berintegritas.
Di titik ini, pemerintah daerah tak punya pilihan, tunjuk konsultan pengawas dan kontraktor yang benar-benar layak, bukan yang sekadar dekat, apalagi yang hanya pandai menyusun proposal tanpa kemampuan nyata di lapangan.
Jika masih ada permainan, jika masih ada kompromi murahan, maka yang hancur bukan hanya bangunan, tetapi kepercayaan publik yang tersisa.
Jangan bicara pembangunan berkelanjutan jika praktik di lapangan masih berbau kepentingan sempit. Jangan mengutip SDGs jika prinsip No One Left Behind hanya jadi slogan tanpa nyawa. Pembangunan bukan tentang siapa yang diuntungkan hari ini, tapi siapa yang tidak boleh ditinggalkan esok hari.
Dalam kondisi anggaran yang terbatas, setiap rupiah adalah amanah, bukan ladang eksperimen, bukan ruang bancakan. Jika uang rakyat dibelanjakan tanpa kualitas, maka itu bukan sekadar kelalaian, itu pengkhianatan.
Kita tidak butuh proyek yang cepat selesai tapi cepat hancur. Kita butuh hasil yang bertahan, yang kokoh, yang membuktikan bahwa pembangunan ini bukan ilusi jangka pendek, tapi investasi masa depan.
Dan di sinilah peran masyarakat menjadi tak bisa ditawar. Diam adalah celah bagi penyimpangan. Ketidakpedulian adalah pupuk bagi kegagalan. Rakyat bukan penonton, rakyat adalah pengawas. Rakyat adalah pemilik sah dari setiap kebijakan yang dijalankan.
Jika pemerintah lengah, rakyat harus bersuara, jika kualitas dipermainkan, rakyat harus melawan, dan jika pembangunan melenceng, rakyat harus berdiri di garis depan.
Karena pada akhirnya, pembangunan ini bukan milik pemerintah, ini milik kita semua.
Kawal, awasi. Jangan beri ruang bagi kegagalan, sebab jika hari ini kita diam, maka besok kita hanya akan mewarisi reruntuhan dari janji-janji yang tak pernah ditepati.(Thonk).

Social Footer
Kontributor
Label
Social Media