![]() |
| Dr. Drs. Agus Mulyono, M.M., (kanan) secara simbolis menyerahkan Zakat Fitrah kepada Ketua RT untuk di bagikan ke penerima Zakat Fitrah yang sudah terdata di wilayah RT masing-masing. |
Yogyakarta (F86) - Takmir Masjid Al Mustaqim, Srikaloka, Bugisan, Patangpuluhan, Wirobrajan, Kota Jogja, melalui Seksi Zakat Mal, Fidyah, dan Fitrah yang dikoordinatori Dr. Drs. Agus Mulyono, M.M., menunjukkan pengelolaan zakat yang tertata dengan baik selama Ramadan 1447 H.
Melalui sistem distribusi berbasis wilayah, zakat yang terkumpul tidak hanya dikelola secara transparan, tetapi juga disalurkan secara tepat sasaran kepada masyarakat sekitar.
“Zakat diserahkan ke ketua RT, kemudian disalurkan kepada warga yang sudah terdata oleh pengurus masjid,” ujar Agus Mulyono kepada awak media. Kamis (19/3/2026).
Berdasarkan data yang dihimpun pengurus, perolehan zakat dan infak tahun ini meliputi:
Zakat Mal: Rp 11.650.000
Zakat Fitrah: 867 kilogram beras
Fidyah: Rp 810.000
Infak Ramadan: Rp 10.212.500.
Zakat fitrah berupa beras tersebut didistribusikan kepada warga yang berhak menerima (mustahik) melalui masing-masing ketua RT di wilayah RW 5, sehingga penyaluran lebih merata dan sesuai kebutuhan.
Selain beras, paket zakat juga dilengkapi dengan bahan kebutuhan pokok seperti mie instan, telur, dan minyak goreng guna membantu meringankan beban ekonomi warga.
Agus Mulyono menjelaskan bahwa jumlah muzakki (pembayar zakat) tahun ini relatif stabil, meskipun sedikit mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya. Hal ini karena pengurus lebih memprioritaskan penyaluran kepada warga lokal.
“Kami utamakan warga sekitar dulu agar penyalurannya benar-benar tepat sasaran,” jelasnya.
Masjid Al Mustaqim tidak hanya difungsikan sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat kegiatan sosial masyarakat. Selama Ramadan, berbagai aktivitas seperti pembagian takjil, tadarus, tarawih, hingga iktikaf rutin dilaksanakan.
“Masjid itu magnet kebersamaan. Dengan kegiatan sederhana saja, warga bisa kumpul, ngobrol, dan guyub sampai larut malam,” ungkapnya.
Menurutnya, pendekatan berbasis masjid lebih efektif dalam membangun solidaritas masyarakat karena dilandasi nilai kebersamaan dan ketaatan dalam beribadah.
Ke depan, pengurus memiliki visi untuk menjadikan masjid lebih mandiri secara ekonomi, dengan mencontoh pengelolaan Masjid Jogokariyan di Yogyakarta.
Saat ini, operasional masjid masih bergantung pada donatur tetap, termasuk untuk kebutuhan rutin seperti pembayaran listrik. Oleh karena itu, pengurus berencana mengembangkan unit usaha produktif milik masjid.
Rencana tersebut meliputi pemanfaatan lahan kosong atau penyewaan lahan pertanian untuk ditanami komoditas seperti cabai dan pepaya, dengan melibatkan generasi muda dalam pengelolaannya.
“Harapannya, hasil usaha bisa masuk ke kas masjid dan sekaligus melibatkan anak muda agar punya kegiatan positif,” tambahnya.
Langkah ini diharapkan mampu memperkuat kemandirian finansial masjid sekaligus meningkatkan partisipasi generasi muda dalam kegiatan sosial keagamaan.(Red).



Social Footer
Kontributor
Label
Social Media