Catatan yang Terserak
Oleh : Toto Isanto. DS.
Sabtu : 21 Maret 2026
Indragiri Hilir (F86) - Di tengah hiruk-pikuk agenda pemerintahan, publik disuguhi pemandangan yang itu-itu saja, seremoni demi seremoni, gunting pita yang tak pernah absen, dan panggung yang selalu ramai oleh pidato penuh janji.
Namun di balik gemerlap itu, satu pertanyaan besar tak kunjung terjawab, "di mana hasil nyatanya..?".
Pemerintahan seakan terjebak dalam rutinitas simbolik. Kehadiran di setiap acara dijadikan tolok ukur kerja, seolah-olah frekuensi tampil di depan kamera dapat menggantikan substansi pembangunan. Padahal, rakyat tidak hidup dari seremoni. Mereka hidup dari kebijakan yang bekerja, dari program yang benar-benar menyentuh kebutuhan mereka.
Lebih mengkhawatirkan lagi, ketika seremoni dijadikan tameng untuk menutupi stagnasi. Masalah infrastruktur yang tak kunjung selesai, pelayanan publik yang jalan di tempat, hingga keluhan masyarakat yang berulang, semua seperti tenggelam di bawah gemuruh tepuk tangan yang sementara.
Ini bukan sekadar soal gaya kepemimpinan, ini soal arah. Ketika energi dan waktu lebih banyak dihabiskan untuk menjaga citra dibanding menyelesaikan persoalan, maka yang lahir bukanlah kemajuan, melainkan ilusi kemajuan.
Rakyat tidak butuh pemimpin yang hanya hadir untuk meresmikan. Rakyat butuh pemimpin yang berani menuntaskan, yang tidak sekadar berdiri di panggung, tetapi turun menyelesaikan persoalan hingga tuntas.
Jika pola ini terus dipertahankan, maka kepercayaan publik bukan hanya akan terkikis, ia bisa runtuh.
Karena pada akhirnya, seberapa pun megahnya seremoni, ia tidak akan pernah mampu menutupi satu hal, "ketiadaan hasil yang nyata".(Thonk).

Social Footer
Kontributor
Label
Social Media