![]() |
| Jelang perayaan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1948 yang jatuh pada Kamis, 19 Maret 2026, masyarakat Hindu di Bali mulai melaksanakan berbagai rangkaian ritual adat. |
Bali (F86) – Menjelang perayaan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1948 yang jatuh pada Kamis, 19 Maret 2026, masyarakat Hindu di Bali mulai melaksanakan berbagai rangkaian ritual adat. Salah satu tradisi yang paling dikenal adalah pembuatan serta pengarakan ogoh-ogoh, yang menjadi simbol pengembalian unsur-unsur negatif atau Butha Kala ke asalnya sebelum memasuki hari penyepian.
Tradisi ogoh-ogoh merupakan bagian penting dari rangkaian ritual menjelang Nyepi. Prosesi ini memiliki makna spiritual, yakni menyeimbangkan kembali unsur-unsur alam yang dikenal dalam konsep Panca Mahabhuta.
Tokoh adat sekaligus pemerhati tradisi Bali, P. Putu, menjelaskan bahwa ogoh-ogoh bukan sekadar karya seni atau hiburan masyarakat, tetapi memiliki nilai simbolis dalam kehidupan spiritual umat Hindu.
“Ogoh-ogoh adalah cara paling mudah menggambarkan wujud Butha Kala. Melalui prosesi ini, unsur-unsur alam yang berasal dari Panca Mahabhuta dikembalikan ke asalnya agar tercipta keseimbangan sebelum umat menjalani Catur Brata Penyepian,” jelas P. Putu.
Ia menambahkan, dalam proses pembuatan ogoh-ogoh juga terdapat berbagai rangkaian upacara dan bebantenan (sesajen) sebagai sarana penyucian.
Beberapa jenis banten yang digunakan antara lain pemelaspas, pangulapan, tumpeng pitu, serta dilengkapi jerimpen, prayascita, dan biyuakaon. Upacara pemelaspas sendiri memiliki makna memisahkan unsur manusia dari benda yang telah dibuat, termasuk menghilangkan jejak sentuhan pembuatnya.
“Dalam pembuatan ogoh-ogoh terdapat unsur sentuhan tangan pembuatnya. Oleh karena itu dilakukan upacara pemelaspas sebagai simbol penyucian sebelum digunakan dalam prosesi adat,” tambahnya.
Setelah prosesi pengarakan selesai, masyarakat biasanya melebur atau memusnahkan ogoh-ogoh tersebut. Hal ini dilakukan sebagai simbol mengembalikan unsur negatif agar tidak menimbulkan gangguan atau bencana.
Makna Nyepi bagi Kehidupan
Hari Raya Nyepi memiliki filosofi mendalam bagi umat Hindu. Dalam kepercayaan tersebut, kehidupan manusia dimulai dari kegelapan sebelum akhirnya menemukan terang.
Melalui momen Nyepi, umat Hindu diajak untuk melakukan introspeksi diri dan menenangkan pikiran. Pelaksanaan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1948 berlangsung selama 24 jam, mulai Kamis, 19 Maret 2026 pukul 06.00 WITA hingga Jumat, 20 Maret 2026 pukul 06.00 WITA.
Selama periode tersebut seluruh aktivitas publik di Bali dihentikan total, termasuk operasional Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, transportasi, serta kegiatan wisata. Aktivitas hanya diperbolehkan bagi layanan darurat seperti rumah sakit.
Pengamanan selama Nyepi dilakukan oleh pecalang, petugas adat yang berjaga di setiap banjar dan jalan utama untuk memastikan masyarakat menjalankan aturan penyepian.
Empat Larangan Saat Nyepi
Umat Hindu menjalankan Catur Brata Penyepian, yaitu:
Amati Geni – tidak menyalakan api atau lampu.
Amati Lelungan – tidak bepergian.
Amati Lelanguan – tidak bersenang-senang
Amati Karya – tidak bekerja atau melakukan aktivitas fisik.
Selain menjadi momen spiritual bagi umat Hindu, Nyepi juga memberikan kesempatan bagi alam Bali untuk beristirahat dari aktivitas manusia, termasuk pariwisata.
Tradisi ini tidak hanya dilaksanakan di Bali, tetapi juga oleh komunitas Hindu di berbagai daerah di Indonesia seperti Tengger Bromo (Jawa Timur), Yogyakarta, Jakarta, hingga Lampung, yang turut menggelar festival ogoh-ogoh sebagai bagian dari perayaan budaya dan spiritual.(Awiek R).




Social Footer
Kontributor
Label
Social Media