Label


Breaking News

Jelang Hari Raya Nyepi 2026, Umat Hindu di Bali Laksanakan Tradisi Melasti untuk Penyucian Diri dan Alam

Foto Rangkaian ritual keagamaan. Salah satu tradisi sakral yang menjadi bagian penting adalah upacara Melasti, yang dilakukan sebagai simbol penyucian diri dan alam semesta.

Bali (F86) – Menjelang perayaan Hari Raya Nyepi yang jatuh pada Kamis (19/3/2026), umat Hindu di Pulau Bali mulai melaksanakan berbagai rangkaian ritual keagamaan. Salah satu tradisi sakral yang menjadi bagian penting adalah upacara Melasti, yang dilakukan sebagai simbol penyucian diri dan alam semesta.

Tradisi Melasti merupakan bagian dari rangkaian Nyepi yang bertujuan untuk mengembalikan keseimbangan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta. Prosesi ini umumnya dilakukan di sumber air suci seperti laut, danau, maupun mata air yang disakralkan.

Tokoh masyarakat adat Bali, P. Putu, menjelaskan bahwa sebelum memasuki puncak perayaan Nyepi dengan pelaksanaan Catur Brata Penyepian, umat Hindu terlebih dahulu melaksanakan ritual-ritual pendukung, termasuk Melasti.

“Melasti merupakan bagian penting dalam rangkaian Nyepi. Melalui ritual ini, umat memohon penyucian diri dan alam, sekaligus mengembalikan unsur-unsur negatif atau bhuta kala ke tempatnya,” ujar P. Putu. Selasa (17/3/2026).

Berdasarkan lontar kuno seperti Sunarigama dan Sanghyang Aji Swamandala, Melasti memiliki makna mendalam yang dirumuskan dalam ajaran Jawa Kuno, yakni:

“Melasti Ngarania Ngiring Prewatek Dewata Angayutaken Laraning Jagad, Papa Klesa Letuhing Bhuwono.”

Ajaran tersebut menjelaskan lima tujuan utama Melasti, di antaranya:

Melasti Ngarania – sebagai proses penyucian.

Ngiring Prewatek Dewata – memuja Tuhan beserta manifestasi-Nya.

Angayutaken Laraning Jagad – menghanyutkan penderitaan dan penyakit sosial.

Papa Klesa – membersihkan sifat buruk dalam diri manusia seperti egoisme, amarah, dan ketakutan.

Letuhing Bhuwana – menyucikan alam semesta dari segala kotoran.

Menurut P. Putu, Melasti juga memiliki tujuan spiritual untuk meningkatkan kesadaran umat dalam menjaga kelestarian lingkungan hidup.

“Melasti mengajarkan umat untuk mengambil sari kehidupan dari laut atau sumber air, yang dikenal sebagai ngamet tirta amerta. Ini memiliki nilai universal tentang keseimbangan hidup,” jelasnya.

Dalam tradisi masyarakat Bali, Melasti juga dikenal dengan sebutan Melis atau Mekiyis. Ritual ini dilakukan dengan mengarak pratima (simbol-simbol suci) menuju sumber air untuk disucikan.

Prosesi ini tidak hanya bermakna religius, tetapi juga menjadi momentum refleksi diri bagi umat Hindu untuk membersihkan pikiran, perkataan, dan perbuatan dari hal-hal negatif.

“Melasti adalah upaya menyucikan diri secara lahir dan batin, agar umat siap menjalani Nyepi dengan penuh kesadaran spiritual,” tambahnya.

Dengan dilaksanakannya Melasti, umat Hindu diharapkan dapat memasuki Hari Raya Nyepi dengan hati yang bersih, sehingga mampu menjalankan Catur Brata Penyepian secara khusyuk dan penuh makna.(Awiek R).

Type and hit Enter to search

Close