![]() |
| Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY) XXI tahun 2026 kembali digelar meriah di kawasan, mulai 25 Februari hingga 3 Maret 2026. |
YOGYAKARTA (F86) – Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY) XXI tahun 2026 kembali digelar meriah di kawasan Kampung Ketandan, mulai 25 Februari hingga 3 Maret 2026. Festival budaya tahunan ini menjadi salah satu agenda unggulan kalender wisata di Yogyakarta dengan jumlah pengunjung diperkirakan melampaui 50 ribu orang.
Lonjakan antusiasme masyarakat tahun ini dipicu keunikan momentum perayaan Imlek yang berdekatan dengan bulan Ramadhan 1447 Hijriah. Kondisi tersebut menghadirkan nuansa kebersamaan lintas budaya dan agama di jantung kota pelajar.
Kawasan Ketandan kembali bersolek dengan ratusan lampion merah, bazar kuliner khas Tionghoa, serta panggung seni budaya yang digelar setiap malam selama sepekan penuh. Beragam hiburan disajikan mulai dari barongsai, pertunjukan liong, musik Mandarin, hingga seni tradisional akulturasi seperti wayang Po Tey Hi.
Tema PBTY tahun ini, “Warisan Budaya Memperkuat Persatuan Bangsa”, menegaskan bahwa festival ini tidak hanya menjadi perayaan budaya, tetapi juga ruang dialog sosial yang mempererat toleransi masyarakat.
Panitia juga menghadirkan konsep ngabuburit budaya dengan pembagian takjil gratis bagi pengunjung di beberapa titik kawasan festival sebagai bentuk kebersamaan di bulan Ramadhan.
Selain hiburan, pengunjung dapat menyaksikan pameran sejarah di Rumah Budaya Ketandan yang dahulu merupakan kediaman tokoh Tionghoa Jogjakarta, yang dikenal sebagai Kanjeng Raden Tumenggung Setjodiningrat dan berperan penting dalam perkembangan kawasan Pecinan Jogjakarta pada masa kolonial.
Pemandu sejarah Kampung Ketandan, Suherman Tan Pandu, menjelaskan bahwa kawasan ini memiliki nilai historis yang kuat dalam perjalanan sosial budaya Jogja.
“Kampung Ketandan bukan sekadar kawasan Pecinan, tetapi saksi sejarah panjang akulturasi budaya Tionghoa dan Jawa di Yogyakarta sejak masa kolonial,” ujar Suherman Tan Pandu.
Menurutnya, festival PBTY menjadi sarana penting untuk mengingatkan generasi muda bahwa keberagaman telah lama menjadi fondasi kehidupan masyarakat Yogyakarta.
Dampak ekonomi dari festival ini juga dirasakan langsung oleh pelaku usaha di kawasan wisata . Tingkat okupansi hotel di Yogyakarta meningkat sekitar 15 persen dibanding bulan sebelumnya, sementara omzet pedagang kaki lima dan UMKM dilaporkan naik hingga dua kali lipat selama penyelenggaraan festival.
Sementara itu, perayaan Imlek juga berlangsung di Klenteng Gondomanan dengan rangkaian ibadah dan tradisi budaya yang melibatkan masyarakat lintas etnis.
Puncak rangkaian PBTY XXI akan digelar melalui Malioboro Imlek Carnival pada Sabtu malam, 28 Februari 2026, pukul 20.00–22.30 WIB. Pawai budaya ini akan mengambil rute dari halaman Kantor DPRD DIY menuju Malioboro hingga Titik Nol Kilometer.
Karnaval tersebut akan menampilkan parade lintas etnis, atraksi barongsai dan naga raksasa, kostum tradisional Nusantara, lampion raksasa, hingga pertunjukan seni kolaboratif yang menggambarkan akulturasi budaya Tionghoa dan Indonesia.
PBTY Ketandan kembali menegaskan wajah Yogyakarta sebagai kota budaya yang mampu merawat keberagaman dalam harmoni.(Awiek R).

Social Footer
Kontributor
Label
Social Media