Label


Breaking News

Gelar Budaya Ruwahan Apem Purwokinanti Angkat Tradisi Kyai Jaga dan Potensi UMKM Warga

Masyarakat Kelurahan Purwokinanti melalui kegiatan tahunan Gelar Budaya Ruwahan Apem dan Gelar UMKM, Sabtu (14/2/2026).

YOGYAKARTA (F86) – Tradisi ruwahan kembali digelar masyarakat Kelurahan Purwokinanti melalui kegiatan tahunan Gelar Budaya Ruwahan Apem dan Gelar UMKM, Sabtu (14/2/2026). Kegiatan ini tidak hanya menampilkan kirab budaya, tetapi juga mengangkat nilai sejarah lokal, termasuk tradisi sakral Kursi Kyai Jaga di kawasan Jagalan Ledoksari.

Kursi Kyai Jaga merupakan bangunan sederhana dari susunan bata yang dilapisi pasir dan gamping, terletak di Gang Iso di sisi timur Sungai Code. Warga setempat meyakini tempat tersebut sebagai situs sakral yang kerap digunakan untuk ritual bancakan atau sedekah ketika warga memiliki hajatan.

Di lokasi itu juga terdapat prasasti peninggalan masa pemerintahan bertahun 1909, yang menjadi bukti sejarah keberadaan kawasan Jagalan Ledoksari sejak masa Kadipaten Pakualaman.

Menjelang acara, ibu-ibu RW 06 Purwokinanti telah mempersiapkan berbagai hidangan tradisional seperti ketan, kolak, dan apem sejak Jumat malam. Tradisi ruwahan sendiri merupakan wujud syukur sekaligus ungkapan suka cita masyarakat Jawa dalam menyambut bulan Ramadan 1447 Hijriah.

Usai ritual di lokasi Kyai Jaga, rangkaian acara dilanjutkan dengan kirab budaya yang dipusatkan di Jalan Jayengprawiran, tepatnya di depan Kantor KUA Pakualaman.

Meski cuaca mendung, ratusan warga tetap antusias mengikuti prosesi budaya tersebut. Acara turut dihadiri Ketua , jajaran Dinas Kebudayaan, unsur Forkopimtren Pakualaman, Kapolsek, Danramil, serta tokoh masyarakat setempat.

Mantri Pamong Praja Kemantren Pakualaman, Saptohadi, dalam sambutannya mengapresiasi pelaksanaan gelar budaya tersebut sebagai sarana pelestarian tradisi sekaligus penguatan potensi wisata budaya.

“Kegiatan seperti ini bukan hanya menjaga tradisi, tetapi juga membuka ruang pengembangan ekonomi masyarakat dan daya tarik wisata wilayah,” ujarnya.

Kirab budaya dilepas secara simbolis melalui pengibasan bendera oleh Ketua DPRD Kota Yogyakarta. Rute kirab dimulai dari Kantor KUA Pakualaman, melintasi Jagalan, Beji, Masjid Kauman Wetan, Harjowinatan, Gajah Mada, Juminahan, hingga kembali ke Jayengprawiran sebagai titik akhir.

Lurah Purwokinanti, Moch. Ismail, SH., M.M., menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan kolaborasi antara kelurahan, unsur Forkopimtren, masyarakat, serta pelaku usaha perhotelan di wilayah Purwokinanti.

“Kami ingin tradisi ruwahan tetap hidup sekaligus memberi ruang bagi UMKM dan potensi warga agar semakin berkembang,” ungkapnya.

Melalui gelar budaya ini, masyarakat berharap tradisi lokal tidak hanya menjadi warisan, tetapi juga mampu menjadi penggerak ekonomi dan pariwisata berbasis budaya di Kota Yogyakarta.(Awiek R).


Type and hit Enter to search

Close