YOGYAKARTA (F86)— Museum Radio Yogyakarta menjadi ruang hidup yang merekam perjalanan panjang sejarah penyiaran radio di Indonesia. Di tempat ini, pengunjung dapat menyaksikan secara langsung radio-radio kuno, pemutar piringan hitam gramophone buatan Inggris, hingga kursi penyiar berbahan rotan yang dahulu menjadi saksi suara-suara penting yang mengudara ke seluruh penjuru negeri.
Museum Radio tidak sekadar memajang benda mati. Di dalamnya tersimpan arsip rekaman musik dan siaran lawas, peralatan penyiaran dari berbagai era, serta dokumentasi perkembangan teknologi radio yang pernah menjadi tulang punggung informasi dan hiburan masyarakat. Pengalaman yang ditawarkan bersifat edukatif dan interaktif, mengajak pengunjung memahami bagaimana dunia kepenyiaran berkembang dari masa ke masa.
Radio merupakan salah satu media massa tertua yang memiliki peran strategis dalam membentuk kesadaran publik. Dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia, radio menjadi alat komunikasi yang vital menyampaikan kabar, membangun semangat, dan menghubungkan rakyat di tengah keterbatasan teknologi kala itu.
waktu, teknologi penyiaran terus mengalami perubahan. Pada masa awal berdirinya radio swasta sekitar tahun 1966, perangkat siaran sudah mulai meninggalkan penggunaan pita reel secara perlahan. Setahun kemudian, pada 1967, teknologi kaset mulai diperkenalkan dan digunakan secara luas. Meski demikian, pita reel masih bertahan sebagai media rekaman hingga era 1980-an, sebelum akhirnya ditinggalkan seiring hadirnya cassette recorder yang lebih praktis.
Memasuki dekade 1990-an, teknologi digital sound mulai diperkenalkan. Perangkat rekaman dan pemutar audio pun berangsur beralih ke komputer. Transformasi ini menjadi tonggak penting dalam dunia penyiaran, mengubah cara produksi, penyimpanan, dan distribusi siaran radio.
Bahkan hingga awal 1980-an, lembaga penyiaran besar seperti TVRI dan RRI masih memanfaatkan reel tape, baik untuk proses rekaman maupun pemutaran hasil siaran. Pada tahun 1985, teknologi multi track cassette recorder empat hingga delapan track mulai digunakan, salah satunya dengan perangkat bermerek Tascam. Namun, seiring perkembangan teknologi, seluruh perangkat tersebut kini telah tergantikan oleh komputer yang didukung hardware dan software yang jauh lebih memadai.
Salah satu saksi hidup perjalanan panjang dunia penyiaran tersebut adalah Martan Kiswoto, pengelola Radio Swara Kenanga yang berlokasi di Ponggalan, Kotagede, Yogyakarta. Lebih dari setengah abad, ia mengabdikan hidupnya di dunia broadcasting, menyaksikan langsung peralihan teknologi dari analog hingga digital.
"Segmen kami memang orang tua, usia 30 tahun ke atas, khususnya masyarakat Jawa di Yogyakarta. Lebih dari 50 persen materi siaran kami adalah kesenian Jawa, seperti Campursari, Ketoprak, Wayang Kulit, Sandiwara Daerah, Keroncong, dan Macapat,” ujarnya, Sabtu (3/1/2026).
Radio Swara Kenanga dikenal konsisten menggunakan bahasa Jawa dalam setiap siarannya. Pendekatan kultural yang kuat menjadikan radio ini bukan sekadar media hiburan, melainkan ruang pelestarian budaya Jawa di tengah arus modernisasi.
Meski fokus pada pendengar usia dewasa, Martan Kiswoto berharap generasi muda tidak menjauh dari radio dan budaya.
“Kami berharap anak-anak muda juga mau mengikuti, sehingga bisa ikut melestarikan budaya,” katanya.
Selain siaran on air, Radio Swara Kenanga juga aktif menggelar kegiatan off air, seperti pentas keroncong, karaoke budaya, hingga pertunjukan seni tradisional yang mendapat sambutan hangat dari masyarakat.
Dalam kesempatan tersebut, Martan Kiswoto juga menyampaikan pesan kepada masyarakat Yogyakarta.
“Apa yang kami himpun ini semoga bisa mengedukasi generasi muda tentang dunia penyiaran, khususnya radio siaran. Museum ini terbuka untuk umum dan gratis, tidak dipungut biaya,” ungkapnya.
Radio memiliki kelebihan unik dibanding media lain, yakni kemampuan menyampaikan pesan secara cepat dan personal. Ibarat seorang tamu yang datang, duduk, berbicara, lalu pergi, radio mampu hadir langsung di ruang pendengar. Namun, pendengar radio juga bersifat heterogen dan bebas berpindah gelombang ketika merasa jenuh. Karena itu, siaran radio dituntut untuk cepat, ringkas, dan relevan agar mampu mengikat pendengar secara berkelanjutan.
Di tengah gempuran media digital, Museum Radio Yogyakarta dan Radio Swara Kenanga menjadi pengingat bahwa radio bukan sekadar teknologi lama, melainkan bagian dari identitas budaya, perjalanan sejarah, dan memori kolektif bangsa yang patut dijaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya.(Awiek R).



Social Footer
Kontributor
Label
Social Media