YOGYAKARTA (F86) – Paguyuban Trah Pangeran Diponegoro (Patra Padi) menggelar Peringatan Haul Bendoro Pangeran Haryo (BPH) Diponegoro ke-171 tahun di nDalem Tegalrejo, Monumen Diponegoro, Yogyakarta, Kamis Kliwon (8/1/2026). Kegiatan ini menjadi momentum doa bersama sekaligus penguatan silaturahmi antara trah Diponegoro, pemangku kepentingan, dan masyarakat luas.
BPH Diponegoro, pemimpin tertinggi Perang Jawa 1825–1830, wafat pada 8 Januari 1855 dalam usia 69 tahun. Sepanjang hidupnya, Pangeran Diponegoro dikenal sebagai sosok pejuang yang mengabdikan diri sepenuhnya bagi Ibu Pertiwi, dengan perjuangan dan pengorbanan besar melawan penjajahan.
Peringatan haul tahun ini mengangkat tema “Merajut Silaturahmi dalam Warisan Perjuangan” sebagai bentuk penghormatan dan pemuliaan terhadap pahlawan nasional yang telah mengukir sejarah perjuangan bangsa.
“Peringatan haul ini bukan hanya doa untuk almarhum, tetapi juga ikhtiar merawat nilai-nilai perjuangan, keteladanan, dan persatuan yang diwariskan oleh BPH Diponegoro,” ujar Ketua Panitia Haul, R. Dwi Akseptoro TY, Amd IP, ST (Yuki).
Rangkaian kegiatan haul diawali dengan Khataman Al-Qur’an, pelantunan Sholawat Nabi, Tahlil, dan dilanjutkan Istighosah serta Mauidhoh Hasanah. Doa dan tausiyah dipimpin oleh Syeikh Abu Zaki As-Sangafuri Al-Hadhrami (Malaysia), KH. Muhammad Nilzam Yahya, M.Ag., serta Ustadz M. Yaser Arafat.
Suasana semakin khidmat dengan penampilan Hadroh Pengajian Taman Surga Tegalrejo, Hadroh Panti Asuhan Putri Sasana Kreatif Mandiri, serta Seni Angklung Panti Asuhan Putra-putri Difabel Bina Siwi yang menambah nuansa religi dan kebudayaan.
Acara ini turut dihadiri perwakilan Pemerintah Provinsi DIY, TNI AD, para alim ulama, anggota legislatif, perwakilan Pemerintah Kota Yogyakarta, tokoh masyarakat, santri, dan masyarakat umum.
Dalam kesempatan tersebut, Patra Padi juga menyampaikan informasi reorganisasi kepengurusan yang telah dilakukan pada November 2025, dengan terpilihnya Saiful Achmad Diponegoro (Trah Diponegoro Makassar) sebagai Ketua Umum periode 2025–2029, menggantikan Rahadi Saptata Abra (Trah Diponegoro Yogyakarta).
“Pergantian kepemimpinan ini bukan sekadar estafet organisasi, melainkan simbol bahwa semangat Diponegoro adalah milik Nusantara, bukan hanya Jawa,” ungkap perwakilan Patra Padi.
Panitia berharap, melalui peringatan haul ini, nilai kepahlawanan, keberanian, keikhlasan, dan pengabdian BPH Diponegoro dapat terus diteladani dalam kehidupan sehari-hari.
“Semoga dari kegiatan ini lahir Diponegoro-Diponegoro muda yang berkhidmat tulus kepada bangsa dan negara,” pungkasnya.(Red).


Social Footer
Kontributor
Label
Social Media