Label


Breaking News

Hajad Dalem Labuhan Parangkusumo 2026, Ritual Sakral Keraton Yogyakarta Sarat Makna Filosofi

 

Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat kembali menggelar Hajad Dalem Labuhan Parangkusumo pada Senin (19/2/2026)

Bantul (F86) - Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat kembali menggelar Hajad Dalem Labuhan Parangkusumo pada Senin (19/2/2026). Tradisi sakral yang rutin dilaksanakan setiap bulan Ruwah ini menjadi wujud rasa syukur Keraton sekaligus doa keselamatan bagi Raja, rakyat, dan para leluhur menjelang datangnya bulan suci Ramadhan.

Rangkaian upacara Labuhan Parangkusumo diawali sejak malam sebelumnya, Minggu (17/2/2026). Masyarakat kawasan Pantai Parangkusumo disuguhi kesenian wayang kulit semalam suntuk, dilanjutkan doa bersama serta tahlilan. Suasana religius dan khidmat menyatu dengan kentalnya nilai budaya Jawa yang terus dijaga hingga kini.

Labuhan Parangkusumo merupakan salah satu tradisi penting Keraton Yogyakarta yang tidak hanya sarat nilai spiritual, tetapi juga memiliki makna historis yang mendalam. Ritual ini diyakini berkaitan dengan pertemuan Panembahan Senopati dengan Kanjeng Ratu Kidul, sehingga Parangkusumo dipilih sebagai lokasi labuhan yang telah ditetapkan secara turun-temurun oleh Keraton.

“Pemilihan lokasi labuhan tidak bisa dilakukan sembarangan. Setiap tempat memiliki latar sejarah dan filosofi tersendiri,” ungkap salah satu abdi dalem Keraton Yogyakarta.

Selain di Parangkusumo, Keraton juga melaksanakan labuhan di sejumlah lokasi sakral lainnya. Gunung Merapi, misalnya, diyakini sebagai tempat persinggahan Eyang Sapu Jagad, penunggu Merapi. Sementara Labuhan Gunung Lawu di Jawa Tengah dipercaya sebagai tempat muksonya Prabu Brawijaya.


Dalam prosesi Labuhan Parangkusumo 2026, sebanyak 30 macam ubo rampe dilabuhkan. Sebelumnya, seluruh ubo rampe tersebut diinapkan semalam di Bangsal Sri Manganti Keraton Yogyakarta. Ubo rampe ini kemudian diserahkan kepada para abdi dalem yang bertugas menuju Parangkusumo.

Adapun ubo rampe yang dilabuhkan antara lain semekan gadung melati, semekan bangun tolak, semekan dringin, kanoko dalem, rikma dalem, ageman blangkon, dhester, celana panjang dan pendek, lisah klonyoh, hingga yotro tindih.

Hajad Dalem Labuhan Parangkusumo juga menjadi daya tarik wisata budaya yang masuk dalam agenda Dinas Pariwisata DIY. Setiap tahunnya, ritual ini mampu menarik wisatawan lokal maupun mancanegara, sekaligus memberikan dampak positif terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Bantul.

Lebih dari sekadar tontonan, tradisi Labuhan Parangkusumo mengandung filosofi luhur Hamemayu Hayuning Bawono, yakni upaya menjaga keharmonisan, keseimbangan alam, dan seluruh isinya.

“Tradisi ini diharapkan mampu menggugah generasi muda untuk ikut berkontribusi dalam pelestarian budaya. Nilai-nilai filosofi yang terkandung di dalamnya harus terus diwariskan,” ujar salah satu tokoh budaya setempat.

Antusiasme masyarakat, warga kawasan Pantai Parangtritis, hingga wisatawan mancanegara tampak tinggi dalam gelaran adat ini. Labuhan Parangkusumo pun kembali menegaskan posisinya sebagai salah satu ritual budaya paling sakral dan bersejarah milik Keraton Yogyakarta Hadiningrat.(Awiek R).




Type and hit Enter to search

Close